Teknik Pemeliharaan Larva Kerapu Kertang Di Bak Terkontrol

Teknik Pemeliharaan Larva Kerapu Kertang Di Bak Terkontrol

Teknik Pemeliharaan Larva Kerapu Kertang Di Bak Terkontrol

Pada tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan target budidaya sebesar 6.847 juta ton, dan sampai 2014 diharapkan target produksi ikan budidaya berada di posisi 16,8 juta ton, sebagaimana tertulis dalam Rencana Strategis (Renstra KKP 2010-2014). Sejalan dengan target budidaya tersebut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP memprioritaskan jenis ikan laut, tawar dan payau. Setidaknya ada lima komoditas perikanan budidaya yang dapat didorong atau dipacu pengembangannya yaitu rumput laut, ikan lele, ikan patin, ikan kakap dan ikan kerapu.

Kerapu memiliki banyak jenis antara lain kerapu tikus/bebek, kerapu macan, kerapu sunu, kerapu kertang, kerapu lumpur dan lain-lain. Dari sekian banyak kerapu teknologi budidaya kerapu telah dikuasai, baik dari segi pembenihannya maupun pembesarannya. Sekarang telah berkembang ikan kerapu jenis baru, hasil persilangan antara beberapa jenis kerapu. Kerapu cantang adalah kerapu hasil persilangan kerapu macan dan kerapu kertang.

perekayasaan hibridisasi ikan kerapu antara ikan kerapu macan betina dan kerapu kertang jantan telah menghasilkan satu varietas baru yang secara morfologis  mirip dengan kedua spesies induknya, sedangkan partumbuhannya lebih baik daripada ikan kerapu macan dan kerapu kertang itu sendiri.  Dengan hadirnya benih varietas baru ini diharapkan dapat membantu produksi benih secara Nasional untuk mendukung pencapaian target produksi sebesar 353% Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2014.

Dalam budidaya perikanan, pakan merupakan faktor penting dikarenakan beberapa hal, salah satunya adalah fungsi pakan untuk memacu pertumbuhan organisme budidaya dengan pemberian pakan yang bergizi, tepat waktu dan dosis yang cukup. makanan yang diperlukan dalam budidaya ikan kerapu, membutuhkan biaya produksi yang cukup tinggi. Sekitar 60%-70% dari total biaya produksi digunakan untuk pembelian pakan.

Karena itu, manajemen (pengelolaan) pakan sangat penting dalam budidaya perikanan, bukan saja karena merupakan bagian dari sistem produksi yang menyedot biaya terbesar, melainkan juga sangat berpengaruh terhadap kualitas air dan lingkungan sekitarnya. Manajemen pakan terdiri dari memilih merek atau membuat pakan yang akan digunakan, mengadakan, menyimpan dan prosedur pemberiannya kepada biota budidaya pada waktu yang tepat dan takaran yang benar

Biologi Ikan Kerapu Kertang

Teknik Pemeliharaan Larva Kerapu Kertang Di Bak Terkontrol
Teknik Pemeliharaan Larva Kerapu Kertang Di Bak Terkontrol

kerapu cantang (epinephelus sp) merupakan benih hibrid hasil perekayasaan perkawinan silang antara ikan kerapu macan (epinephelus fuscoguttatus) sebagai induk betina dengan kerapu kertang (epinephelus lanceolatus) sebagai induk jantan.

Taksonomi

klasifikasi ikan kerapu macan (epinehelus fuscoguttatus) digolongkan menjadi :

Kelas               :           Chondrichthyes

Sub kelas        :           Ellasmobranchii

Ordo                :           Percomorphi

Divisi               :           Perciformes

Famili              :           Serranidae

Genus                         :           Epinephelus

Spesies           :           Epinepheus fuscoguttatus

Klasifikasi ikan kerapu kertang (epinephelus lanceolatus)

Kelas               :           Chondrichthyes

Sub kelas        :           Ellasmobranchii

Ordo                :           Percomorphi

Divisi               :           Perciformes

Famili              :           Serranidae

Genus                         :           Epinephelus

Spesies           :           Epinepheus lanceolatus

Perekayasaan hibridisasi ikan kerapu antara ikan kerapu macan betina dan kerapu kertang jantan telah menghasilkan satu varietas baru yang secara morfologis  mirip dengan kedua spesies induknya, sedangkan partumbuhannya lebih baik daripada ikan kerapu macan dan kerapu kertang itu sendiri.

Morfologi dan Anatomi

terdapat perbandingan morfologi dan anatomi pada ikan kerapu macan, hibrida dan kertang. Masing-masing perbandingan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan morfologi dan anatomi kerapu macan, hibrida dan kertang

No Kerapu Macan Kerapu Hibrida Kerapu Kertang
1. Bentuk tubuh compres sedikit membulat Bentuk tubuh compres dan relative membulat dengan ukuran lebar kepala sedikit atau hampir sama dengan lebar badannya Bentuk tubuh compres dan sedikit membulat
2. Warna kulit kecoklatan dengan 5 garis melintang dibagian tubuhnya Warna kulit coklat kehitaman dengan 5 garis hitam melintang di bagian tubuhnya Warna tubuh abu-abu kehitaman dengan 4 garis melintang yang kurang begitu jelas (samar-samar)
3. Semua sirip (pectoral, anal, ventral, dorsal dan caudal ) dengan dasar berwarna coklat dilengkapi dengan bintik-bintik hitam Semua sirip (pectoral, anal, ventral, dorsal dan caudal ) bercorak seperti kertang dengan dasar berwarna kuning dilengkapi dengan bintik-bintik hitam Semua sirip (pectoral, anal, ventral, dorsal dan caudal ) dengan dasar berwarna kuning dilengkapi dengan bintik-bintik hitam
4. Bintik hitam melebar dihampir semua bagian tubuh. Bintik hitam juga banyak tersebar di kepala dan didekat sirip pectoral dengan jumlah yang berlainan pada setiap individu Bintik hitam juga banyak tersebar di kepala dan didekat sirip pectoral dengan jumlah yang berlainan pada setiap individu
5. Sirip punggung semakin melebar kearah belakang Sirip punggung semakin melebar kearah belakang Sirip punggung semakin melebar kearah belakang
6. Sirip punggung menyatu yang terdiri atas 11 jari-jari keras dan 14 jari-jari lunak, sirip pectoral terdiri atas 16 jari-jari lunak, sirip ventral terdiri dari 1 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak, sirip anal terdiri dari 2 jari-jari keras dan 9 jari-jari lunak, sedangkan sirip caudal terdiri atas 18 jari-jari lunak. Sirip punggung menyatu yang terdiri atas 11 jari-jari keras dan 15 jari-jari lunak, sirip pectoral terdiri atas 17 jari-jari lunak, sirip ventral terdiri dari 1 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak, sirip anal terdiri dari 2 jari-jari keras dan 8 jari-jari lunak, sedangkan sirip caudal terdiri atas 13 jari-jari lunak. Sirip punggung menyatu yang terdiri atas 11 jari-jari keras dan 15 jari-jari lunak, sirip pectoral terdiri atas 17 jari-jari lunak, sirip ventral terdiri dari 1 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak, sirip anal terdiri dari 2 jari-jari keras dan 8 jari-jari lunak, sedangkan sirip caudal terdiri atas 13 jari-jari lunak.
7. Bentuk ekor rounded Bentuk ekor rounded Bentuk ekor rounded
8. Bentuk mulut lebar, superior (bibir bawah lebih panjang dari bibir atas) Bentuk mulut lebar, superior (bibir bawah lebih panjang dari bibir atas) Bentuk mulut lebar, superior (bibir bawah lebih panjang dari bibir atas)
9. Tipe sisik stenoid (bergerigi) Tipe sisik stenoid (bergerigi) Tipe sisik stenoid (bergerigi)
10. Bentuk gigi runcing (canine) Bentuk gigi runcing (canine) Bentuk gigi runcing (canine)
11. Panjang ikan 25 cm Panjang ikan 48 cm, Panjang ikan 32 cm,
12. Panjang usus 34 cm Panjang usus 63 cm Panjang usus 55 cm

Habitat dan Tingkah Laku

Ikan kerapu macan hidup di kawasan terumbu karang yang terdapat di perairan-perairan dangkal hingga 100 m dibawah permukaan air laut. Selain perairan yang berkarang, tempat tenggelamnya kapal menjadi rumpon yang nyaman bagi ikan kerapu. Ikan tersebut akan berdiam dalam lubang-lubang karang atau rumpon dengan aktifitas yang relatif rendah.

daerah penyebaran kerapu macan meliputi Afrika Timur sampai dengan pasifik barat daya. Di Indonesia kerapu macan banyak ditemukan di perairan pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Buru, dan Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu ini adalah wilayah karang yang bentangannya cukup luas.

Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas, sehingga potensi sumber daya dan pengembangan kerapu macan sangat besar. Ikan kerapu ini hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 m, setelah menginjak dewasa (burayak) berpindah ke perairan yang  lebih dalam  yakni kedalaman 7 – 40 m, biasanya perpindahan ini terjadi pada siang dan sore hari.

Kebiasaan Makan

Ikan kerapu termasuk ikan karnivora yang buas dan rakus, hidup menyendiri atau kelompok-kelompok kecil pada perairan terumbu karang dan beberapa di daerah estuaria serta menyukai naungan sebagai tempat bersembunyi. Pada stadia larva sampai juvenil, makanannya adalah zooplankton dari jenis Rotifer, Acaria, naupli Artemia, Copepode dan jenis lainnya, sedangkan dari stadia juvenil sampai fingerling  adalah udang jambret, udang rebon, ikan-ikan kecil dan jenis Crustacea  lainnya. Selanjutnya ikan-ikan muda dan dewasa, jenis makanan yang disukai adalah ikan, udang dan cumi-cumi yang berukuran 10-25% ukuran tubuhnya. Ikan kerapu mencari makan dengan jalan menyergap mangsanya dari tempat persembunyian dan setelah itu kembali lagi

Ikan kerapu mempunyai kebiasaan makan pada pagi hari sebelum matahari terbit dan menjelang matahari terbenam. Di alam kerapu mencari makan sambil berenang diantara batu-batu karang, lubang atau celah-celah batu yang merupakan tempat persembunyiannya. Kerapu tidak pernah mau mengambil atau mengkonsumsi pakan yang diberikan apabila sudah sampai ke dasar, meskipun kerapu dalam keadaan lapar. Biasanya kerapu berdiam di dasar dan tidak akan menyergap pakan yang diberikan jika mereka sudah kenyang

Persyaratan Lokasi

Faktor Teknis dan Non Teknis

pemilihan lokasi untuk budidaya ikan kerapu memegang peranan yang sangat penting. Pemilihan lokasi yang tepat akan mendukung kelangsungan usaha dan target produksi. Pemilihan lokasi meliputi beberapa faktor, antara lain:

  1. Faktor Teknis

faktor teknis adalah segala persyaratan yang harus dipenuhi dalam kegiatan pembenihan kerapu yang berhubungan langsung  dengan aspek teknis dalam memproduksi benih. Beberapa aspek teknis yang penting dan harus dipenuhi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah sebagai berikut :

1). Letak unit pembenihan di tepi pantai untuk memudahkan perolehan sumber air   laut. Pantai tidak terlalu landai dengan kondisi dasar laut tidak berlumpur dan mudah dijangkau agar mudah dalam transportasi.

2). Salinitas air laut 28 – 35 ppt dan kondisinya harus bersih dan tidak tercemar.

3). Sumber air laut dapat dipompa minimum 20 jam perhari.

4). Sumber air tawar tersedia dengan salinitas maksimum 5 ppt.

5). Peruntukan lokasi sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Daerah / wilayah (RUTRD/RUTRW).

  1. Faktor Non Teknis

Faktor non-teknis merupakan pelengkap dan pendukung faktor-faktor teknis dalam memilih lokasi untuk pembenihan ikan kerapu. Dalam penentuan calon lokasi pembenihan, pertama kali perlu diketahui tentang peruntukan suatu wilayah yang biasanya telah terpetakan dalam  RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) dan tata guna lahan, memperhatikan RUTR suatu wilayah untuk pembenihan kerapu diharapkan tidak akan terjadi tumpang tindih lahan usaha. Persyaratan lokasi termasuk faktor non teknis lainnya adalah mengenai kemudahan-kemudahan seperti tersedianya sarana transportasi, komunikasi, instalasi listrik (PLN), tenaga kerja, pemasaran, pasar, sekolah, tempat ibadah, pelayanan kesehatan dan sebagainya. Sebagai makhluk sosial adanya kemudahan-kemudahan tersebut  dapat  memberikan ketenangan dan kenyamanan dalam bekerja. Hal lain yang dapat mendukung kelangsungan usaha adalah dukungan Pemda setempat, terutama masyarakat sekitarnya sehingga terjadinya konflik atau masalah yang biasanya timbul  tidak akan mengancam operasional pembenihan.

Sarana dan Prasarana

  1. Sarana

sarana pembenihan untuk skala rumah tangga tidak selengkap sarana pembenihan untuk skala lengkap (besar). Agar seluruh kegiatan tersebut terlaksana diperlukan sejumlah bak pemeliharaan larva, bak kultur pakan alami, bak filter, dan bak penampungan air (reservoir).

1).  Bak Pemeliharaan Larva

larva kerapu dapat dipelihara dalam bak yang terbuat dari semen (bak beton) atau disebut bak pasangan bata. Bak yang ideal untuk pemeliharaan larva kerapu cantang adalah bak berbentuk empat persegi panjang  dengan jumlah kapasitas optimum 10 – 15 m dengan ukuran 5 x 2 x 1,25 m atau 4 x 3 x 1,35 m (p x l x t).

Pada tiap sudut bak dibuat agak melengkung, karena bentuk siku pada sudut bak akan menyebabkan pergerakan larva terganggu dan penyebarannya tidak merata karena terjebak di sudut bak serta untuk menghindari penumpukkan kotoran dan mempermudah jalannya ikan dengan menghilangkan sudut mati.

Pipa pembuangan dibuat sedemikian rupa agar air yang terbuang berasal dari bagian bawah. Secara sederhana, pipa pembuangan bisa dibuat dari pipa paralon yang kedua ujungnya diberi beberapa lubang dan ditutup dengan kasa plastik. Penempatan bak pemeliharaan larva harus tertutup (indoor), ventilasi udaranya cukup baik, dan suhunya hangat. Diatas bak diberi tutup (shading) dari terpal berwarna gelap, kain hitam atau penutup berwarna gelap lainnya untuk menciptakan ruangan yang redup (tidak lansung terkena matahari) tetapi cukup hangat untuk pertumbuhan ikan.

2). Bak Kultur Pakan Alami

bak kultur plankton Chlorella sp. dan rotifera sebaiknya terbuat dari pasangan bata dengan volume 8-10 ton. Jumlah bak plankton yang diperlukan harus disesuaikan dengan  jumlah bak pemeliharaan larva. Berdasarkan perhitungan dan pengalaman para pembenih kerapu,  total volume bak plankton yang diperlukan 100 – 150% dari total volume bak pemeliharaan larva.

Penempatan bak chlorella sp. dan bak rotifera harus dipisah untuk menghindari kontaminasi antar keduannya. Seluruh bak plankton harus ditempatkan di dalam ruangan terbuka yang intensitas penyinaran mataharinya cukup besar karena salah satu faktor pemicu tumbuhnya plankton adalah ketersediaan cahaya matahari yang cukup.

3). Bak Penampungan Air (Reservoir)

Bak penampungan air adalah bak yang digunakan untuk menampung air bersih hasil penyaringan. Kapasitas bak penampungan air 20 – 30% dari total volume bak larva dan bak pakan alami. Ketersediaan bak penampungan tidak mutlak, tetapi memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:

  • Air dapat didistribusikan secara gravitasi dan merata.
  • Dapat melakukan sterilisasi air, terutama menggunakan bahan kimia, misalnya kaporit. Dengan demikian harus tersedia dua buah bak penampungan.
  • Menghindari terbakarnya elektro motor pompa akibat pemakaian air yang tidak seimbang antara saluran pemasukan (inlet) dan pengeluaran (outlet).

4). Instalasi Pengadaan Air Laut

Air laut baku (air laut asli) merupakan suatu kebutuhan pokok dalam kegiatan pembenihan. Secara fisik, air laut baku tersebut harus jernih, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak membawa bahan endapan suspensi ataupun emulsi. Memperoleh air laut baku harus melalui serangkain instalasi yang terdiri dari pompa air laut, pipa penyedotan air laut, filter, bak penampungan air (reservoir), menara air laut, dan pipa distribusi air laut ke unit produksi.

5). Instalasi Sistem Aerasi

instalasi sistem aerasi terdiri atas aerator, jaringan pipa distribusi, selang aerasi, regulator, dan batu aerasi yang dilengkapi dengan pemberat. Untuk menyuplai oksigen secara teratur ke dalam bak-bak maka digunakan blower.

  1. Prasarana

Sedangkan yang merupakan prasarana usaha pemeliharaan ikan kerapu cantang di skala rumah tangga lebih mempunyai nilai ekonomis jika didukung dengan prasarana seperti : jalan, pasar, listrik, air tawar dan telepon. Prasarana jalan akan memperlancar pengiriman hasil panen ke pasar ataupun untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari pekerja, baik yang sifatnya konsumtif ataupun peralatan-peralatan kerja untuk usaha.

Peralatan lapangan adalah peralatan yang digunakan sehari-hari untuk kelancaran operasional, misalnya selang plastik, pipa sipon, ember saringan panen rotifer dan artemia. Selain itu diperlukan juga peralatan grading dan panen, misalnya tudung saji, gayung plastik, seser, ember plastik, dan baskom plastik

Teknik Pemeliharaan Larva

Persiapan Bak

Bak merupakan media hidup larva dalam pembenihan. Sebelum bak ditebar telur Kerapu, maka dilakukan persiapan bak terlebih dahulu dengan tujuan untuk membuat kondisi media menjadi baik sehingga  perkembangan larva berlangsung dengan baik pula. Persiapan bak dapat dilakukan dengan membersihkan, mengeringkan serta membilas bak dengan air laut. sebelum diisi larva, bak dicuci dengan sabun dan kaporit sebanyak 100 – 150 ppm kemudian didiamkan selama 1 – 2 hari. Setelah itu, bak dibilas dengan air tawar dan dikeringkan.

Persiapan Air Media Pemeliharaan

Air laut yang digunakan untuk memelihara larva disaring melalui filter pasir. Salinitas air media pemeliharaan larva idealnya sebesar 28 – 35 ppt dan suhu airnya 32 ºC. Volume awal pengisian bak berkisar 5 – 7 m3 atau minimal separuh dari volume total bak pemeliharaan. Dengan demikian, masih ada sisa ruangan atau sisa volume bak untuk penambahan fitoplankton. Air yang masuk ke dalam bak disaring dengan filter bag untuk menghindari masuknya organisme renik laut.

Pengadaan dan Seleksi Telur

Telur berasal dari pembenihan skala besar (lengkap). Sebelum ditebar ke dalam bak pemeliharaan, telur terlebih dahulu ditampung di dalam akuarium (50x50x50 cm) dengan kepadatan optimum 1.000 – 2.000 butir/liter selama 2 – 4 jam. Ciri-ciri sel telur yang baik dan berkembang adalah transparan, mengapung atau melayang, berbentuk bulat, kuning telur berada di tengah, dan berukuran 0,8 – 1,1 mm. Sementara itu, telur yang jelek akan mengendap di dasar akuarium dan berwarna putih susu. Telur yang jelek tersebut dibuang dengan cara disifon. Setelah penyiponan selesai, telur yang baik dihitung jumlahnya, kemudian langsung ditebar ke dalam bak pemeliharaan larva.

Tahap Penetasan Telur

Telur yang telah diseleksi kemudian siap ditetaskan. Telur kerapu akan menetas 19 jam setelah pembuahan. Pada awal penetasan, aerasi dikecilkan agar larva kerapu yang baru menetas tidak teraduk oleh arus yang ditimbulkan aerasi. Pemeliharaan larva dilakukan dalam bak semen dengan kapasitas 8 – 10 m3 yang dilengkapi dengan sistem aerasi yang berjarak 50 – 100 cm dan 5 cm di atas dasar bak. Padat penebaran telur dalam bak 8 – 15 butir/liter. Larva yang baru menetas berukuran 0,8 – 1,1 mm, putih transparan, bersifat planktonik, dan bergerak mengikuti arus.

Penebaran Larva

setelah tiba di hatchery, telur harus diaklimatisasi selama 10 – 20 menit dengan cara memasukkan kantong plastik ke dalam bak pemeliharaan larva. Selanjutnya telur direndam dengan larutan iodin dengan dosis 20 ppm selama 15 – 20 menit sebagai desinfektan. Setelah proses perendaman, telur dicuci dengan air laut selama lebih kurang 5 menit dan telur siap ditebar. Kepadatan telur sekitar 10 butir telur/liter, telur kerapu akan menetas antara 17 – 19 jam setelah pemijahan pada suhu 27 – 29°C dengan panjang badan total 1,69 – 1,79 mm.

Penebaran larva sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena pada sore hari ikan mulai makan dan juga mempunyai waktu yang cukup untuk beradaptasi pada tempat yang baru sebelum malam. Padat penebaran telur antara 30 – 50 butir/lt dengan panjang larva berukuran 1,69 – 1,79, sedangkan padat tebar larva 40 ekor/liter yang memberikan tingkat kelulusan hidup lebih baik pada masa pemeliharaan umur 1 – 15 hari dan 10 ekor/lt untuk masa pemeliharaan larva umur 15 – 30 hari.

Perkembangan Larva

Telur kerapu akan menetas dan berubah menjadi larva setelah 17-25 jam dari pemijahan. Larva yang berumur 1 hari (D1) sampai D2 berwarna putih transparan bersifat planktonis, bergerak mengikuti arus, sistem penglihatan belum berfungsi, serta masih mempunyai kuning telur (yolk egg) sebagai cadangan makanan sehingga larva belum membutuhkan pakan tambahan.

Pada saat larva berumur D3 cadangan makanan atau kuning telur sudah terserap habis, mulut dan sistem penglihatan sudah mulai berfungsi sehingga larva membutuhkan pakan dari luar tubuhnya. Karakteristik lainnya yaitu adanya bintik hitam (pigmen melanofor) pada bagian dorskal. Bintik hitam tersebut juga dapat dijadikan indikasi pertumbuhan, bila bintik semakin membesar berarti larva mau memangsa pakan yang tersedia secara optimal sehingga mampu melewati fase kritis awal dan sebaliknya bintik hitam semakin kecil berarti larva tidak mau makan, biasanya larva hanya mampu bertahan hidup sampai umur D6-D7. Pada larva umur D6, bakal sirip punggung (spina dorsalis)  dan sirip perut (spina ventralis) mulai tampak berupa tonjolan, umur D9 spina sudah terlihat jelas. Pertambahan panjang spina berlangsung sampai larva berumur D20, dan selanjutnya akan mereduksi menjadi duri keras pertama pada sirip dorsal dan sirip perut. Mereduksinya spin sampai umur D30 diikuti dengan bertambah panjangnya tubuh larva menjadi ikan muda yang berwarna putih transparan sampai umur D35, dan selanjutnya ikan muda mengalami perubahan warna (pigmentasi) yang sama seperti ikan dewasa.

Fase Kritis

ditemukan fase-fase kritis yang harus diperhatikan agar tingkat kematian larva bisa ditekan sekecil mungkin. Fase-fase kritis tersebut sebagai berikut.

  1. Fase Kritis I

Terjadi pada umur D3 – D7, persediaan kuning telur sebagai cadangan makananya telah terserap habis. Bukaan mulut larva juga masih terlalu kecil untuk memangsa pakan seperti rotifera. Sementara itu, organ pencernaannya belum berkembang sempurna sehingga belum dapat memanfaatkan pakan yang tersedia secara maksimal.

  1. Fase Kritis II

Kematian larva terjadi pada umur D10 sampai dengan D12. Pada saat itu, spina calon sirip punggung dan sirip dada mulai tumbuh semakin panjang. Pada fase ini kebutuhan nutrisinya lebih komplit. Pakan yang diberikan masih sama dengan fase sebelumnya.

  1. Fase Kritis III

Kematian larva terjadi pada berumur D21 sampai dengan D25 ketika terjadi metamorfosis, yakni pada saat spina tereduksi menjadi tulang sirip punggung dan sirip dada pada kerapu muda.

  1. Fase Kritis IV

Pada fase ini, benih berumur lebih dari 35 hari. Sifat kanibalnya sudah mulai tampak. Benih yang ukurannya lebih besar akan memangsa yang lebih kecil.

Pengelolaan Pakan

tabiat makan kebanyakan ikan laut dimulai dengan memakan organisme hidup yang bergerak. Organisme hidup seperti zooplankton adalah jenis pakan yang disukai larva ikan laut, meski ada beberapa larva yang suka terhadap jenis fitoplankton yang bergerak seperti flagellata. Pakan yang tidak hidup, misalnya pakan buatan, biasanya tidak diterima oleh larva ikan laut pada tahap awal kehidupannya. Tetapi larva ikan yang sudah lebih besar biasanya dapat menerima pakan yang tidak hidup.

Pakan Alami

Pakan alami digolongkan menjadi dua, yakni plankton hewani (zooplankton) dan plankton nabati (fitoplankton). Contoh zooplankton adalah rotifera dan artemia, dan contoh fitoplankton adalah chlorella. Untuk mendapatkan pakan alami secara berkesinambungan dan memenuhi syarat kualitas maupun kuantitas diperlukan perencanaan produksi sesuai dengan jenis pakan alami.

Kultur Chlorella sp.

Klorela (Chlorella) adalah jenis alga hijau renik bersel tunggal (unicelluler) yang dialam merupakan plankton tumbuhan (fitoplankton). Klorela diklasifikasikan ke dalam filum Chlorophyta, kelas Chlorococcales (Protococcales), famili Chlorellacea dan genus Chlorella.

di dalam pembenihan ikan skala rumah tangga, mengulturkan atau membudidayakan chlorella di laboratorium dan secara semimasal biasanya tidak dilakukan. Bibit chlorella dapat diperoleh dari pembenihan skala besar (lengkap). Namun, jika memungkinkan, disarankan membuat laboratorium pakan alami yang sederhana. Ruangan yang digunakan tidak perlu terlampau luas, cukup 3 x 3 m, tetapi hasilnya justru lebih baik karena kualitas dan kontinuitas chlorella yang diperlukan dapat terjaga.

  1. Kebutuhan Pupuk Untuk Kultur Chlorella

Kebutuhan pupuk untuk kultur skala semimasal dan skala massal yakni :

Bahan-bahan :

  • Urea : 40 ppm
  • ZA                        : 30 ppm
  • SP-36: 30 ppm
  • EDTA : 5 ppm
  • FeCl3 : 2 ppm
  • Kaporit : 10 ppm
  • Na-Thiosulfat : 5 ppm

Catatan :         – komposisi pupuk tersebut tergantung dari komposisi air laut di lokasi kultur.

                        – jumlah dan dosis pupuk yang diperlukan dapat dihitung berdasarkan ukuran bak kultur

  1. Cara Kultur Skala Massal

Kultur skala masal merupakan kelanjutan dari kultur skala semimassal yang digunakan dalam wadah bak beton yang berukuran minimal 10 m3. Pemupukan dilakukan menggunakan pupuk massal.

  • Bak dan aerasi yang digunakan untuk kultur dibersihkan dengan kaporit agar bebas dari kotoran dan organisme lain yang mengganggu selama proses kultur berlangsung.
  • Air laut dengan salinitas 30-35 ppt diberi kaporit sebanyak 10 ppm kemudian dibiarkan sekitar 12 jam dan diberi aerasi yang kuat. Setelah itu, air laut dinetralkan dengan natrium thiosulfat 5 ppm.
  • Bibit yang digunakan sebanyak 20 persen dari total volume air dengan kepadatan awal kultur 1-2 juta sel/ml.
  • Pemanenan dilakukan setelah kultur berumur 6-8 hari atau tingkat kepadatannya mencapai 10-16 juta sel/ ml. Panen Chlorella sp. dapat dilakukan dengan menggunakan pompa kemudian dialirkan ke dalam bak pemeliharaan larva atau diendapkan dengan larutan NaOH 300 ppm, dibiarkan 4-6 jam. Endapan Chlorella sp. itu di tampung d dalam ember, kemudian dapat dimasukkan ke dalam bak larva sebagai pakan rotifera atau sebagai bibit untuk kultur massal.

Kultur Rotifera

Rotifera merupakan primary consumer dalam rantai makanan udang dan ikan. Brachionus plicatilis adalah spesies dari golongan rotifera yang sekarang dikultur dan digunakan sebagai salah satu pakan pertama kali untuk larva udang dan ikan. Brachionus plicatilis merupakan salah satu rotifera yang diklasifikasikan kedalam filum Trochelminthes, kelas Rotatoria/Rotifera, ordo Notommatida/Monogonata, famili Brachioninae, genus Brachionus.

Kultur rotifera dilakukan di dalam bak beton berukuran 6-8 m3. Cara kultur rotifera tersebut sebagai berikut.

  • Bak diisi Chlorella sp.yang siap dipanen (usia minimum empat hari) sebanyak sepertiga dari ukuran volume bak.
  • Setelah itu, bak ditebari bibit rotifera dengan kepadatan awal sekitar30 individu/ml.
  • Setiap hari pada pagi dan sore hari diisi dengan Chlorella sp. sampai volumenya 6-8 m3.
  • Pemanenan rotifera menggunakan metode panen harian (setiap hari dipanen sebanyak 30%). Bisa juga dipanen total dengan plankton net ukuran 60 mikron setelah usia kultur minimum empat hari atau kepadatannya telah mencapai 100-150 individu/ml.
  • Yeast roti dapay diberikan setiap hari sebanyak 0,2 gram/ m3 sebagai sumber vitamin B sehingga dapt meningkatkan pertumbuhan rotifera. Bahan komersial lain yang dapat digunakan untuk mempercepat pertumbuhan rotifera adalah protein selco.

Kultur Artemia

Artemia atau brine shrimp  adalah sejenis udang primitif yang termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Crustacea, ordo Anostraca, famili Artemidae, genus Artemia. Dari genus Artemia dikenal beberapa spesies, antara lain Artemia salina, A. franciscana, A.urmiana, A. parthenogenetika, A. tunisiana, A. persimilis, A. monica, dan A. dessensis.

teknik penetasan artemia terdapat 2 cara yakni:

  1. Cara Pertama
  • Artemia direndam di dalam air laut selama 15-30 menit kemudian diberi aerasi selama 18-24 jam. Perendaman dilakukan di dalam ember yang bervolume 10 liter.
  • Aerasi diangkat dan dibiarkan selama 10 menit. Artemia yang telah menetas berada di bawah dan cangkangnya berada dipermukaan. Setelah menetas, artemia segera dipanen dengan cara disifon.
  1. Cara Kedua
  • Mencampur klorin (NaHCO3) cair dengan artemia yang telah direndam kemudian diaduk selama 5-10 menit hingga kulit luar artemia menipis
  • Artemia dicuci dengan air laut hingga bersih dan tidak berbau klorin.
  • Setelah itu, artemia diberi aerasi selama 18-24 jam dan dipanen. Biasanya, artemia yang baru menetas akan berenang ke permukaan air, sementara kotoran (kulit cacing) berada di dasar perairan.

2.4.2. Pakan Buatan

Agar tidak terjadi malnutrisi pada larva, maka pemberian pakan buatan harus dilakukan sedini mungkin. Pakan buatan dapat juga berdampak negative terhadap kualitas air akibat dari pembusukan sisa pakan. Disarankan untuk memberikan pakan buatan dimulai pada saat larva berumur D12. Karena larva lebih suka memangsa pakan hidup (rotifer/artemia), maka sebaiknya pemberian pakan buatan dikombinasikan dengan pakan hidup.

selama masa pertumbuhan larva, pakan buatan diberikan berdasarkan ukuran partikelnya. Pakan buatan dapat dibeli di kios pakan dan peralatan pembenihan ikan. Jenis pakan buatan yang tersedia dipasaran antara lain NRD (Inve), Lanzy MB (Inve), ADP (White Crane), RDN (Radiance), Love larva, dan MB1/2 (Riken).

Pemberian Pakan

  1. Pemberian Chlorella

Bak penampungan chlorella diletakkan di atas bak pemeliharaan larva. Perlengkapan aerasi dimasukkan dalam bak penampungan disertai selang aerasi untuk mengalirkan chlorella ke bak pemeliharaan larva. Ujung pipa spiral tersebut dihisap sampai chlorella tersebut mengalir. Ujung pipa tersebut dimasukkan kedalam bak pemeliharaan larva dengan system gravitasi.

  1. Pemberian Rotifer

Rotifer disaring dan dimasukkan ke dalam ember. Rotifer ditebar merata ke dalam bak pemeliharaan dengan hati- hati.

  1. Pemberian Artemia

Artemia diambil dari ember pemeliharaan volume 50 liter dan di masukkan  ke dalam ember volume 12 liter. Artemia di bagikan merata ke dalam bak pemeliharaan dengan hati- hati.

  1. Pemberian Pakan Buatan

Pakan buatan dimasukkan ke dalam botol pakan. Pakan buatan disemprotkan ke permukaan air bak pemeliharaan. Sedangkan menurut Hamka (2009), Cara pemberian pakan buatan dilakukan dengan cara menabur pakan sedikit demi sedikit memakai tangan. Sesuai dengan perkembangan larva, ukuran pakan buatan disesuaikan dengan ukuran larva dan jumlah yang diberikan perhari disesuaikan dengan kemapuan larva memangsanya.

Frekuensi dan Waktu Pemberian Pakan

  1. Rotifera (Branchionus sp.)

Rotifera diberikan pada saat larva berumur 2 hari, yaitu pada saat kuning telur habis sebanyak 3 – 5 ind/ml dan diberikan pada sore hari. Pemberian  rotifera dengan  kepadatan 3 – 5 ind/ml ini terus dipertahankan  sampai  D-30 dan diberikan 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore).

Rotifera tersebut di tambahkan chlorella hingga mencapai volume 200 liter dan bak tersebut diberi aerasi sedang. Sebelum rotifera diberikan, dilakukan pengkayaan (enrichment) dengan beberapa jenis bahan pengkaya misalnya scout emulsion atau selco 0,025 ppm, RDN HUFA 0,5 ppm, Vitamin C 1000 0,025 ppm dan permasol 0,025 ppm.

  1. Artemia

Naupli artemia mulai diberikan pada saat larva berumur 14 – 16 hari. Naupli artemia diberikan 2 kali sehari sampai larva berumur 20 hari dan 2 – 3 kali sehari mulai umur 21 – 30 hari sebanyak 1 – 3 ind/ml. Mulai umur 31 – 45 hari naupli artemia diberikan sebanyak 3 kali sehari sebanyak 3 – 10 ind/ml.

Pemberian pakan dengan artemia dilakukan setelah larva memakan pakan buatan, Yaitu 5 – 7 hari setelah larva makan pakan buatan atau setelah  larva berumur D15. Untuk memacu agar larva lebih banyak memakan pakan buatan, pakan artemia diberikan hanya sekali pada sore hari dan diberikan hingga larva berumur D30. Kepadatan artemia tidak dapat ditentukan dengan pasti, sebagai patokan adalah apabila larva diberi pakan artemia dalam waktu satu jam harus habis, tidak ada lagi yang tersisa dalam air pemeliharaan larva. Artemia yang tersisa akan dimakan larva pada keesokan harinya dan akan berakibat malnutrisi pada larva.

  1. Pakan Buatan

 Pakan buatan mulai diberikan mulai umur 8 hari. Pemberian pakan buatan pada umur 8 – 17 hari sebanyak 8 gram/pemberian sebanyak 2 kali sehari dan pada umur 18 – 20 hari diberikan 3 kali sehari. Mulai umur 21 hari pakan buatan yang diberikan ditingkatkan menjadi 10 gram/pemberian dengan frekuensi 3 kali sehari. Pada umur 31 – 45 hari pakan buatan diberikan sebanyak 15 gram/pemberian dengan frekuensi 3 kali sehari dan ditingkatkan menjadi        4 kali sehari pada umur 46 – 50 hari. Setelah mencapai umur 50 hari (mulai D51) pakan buatan diberikan sebanyak 10 – 15 gram/pemberian dengan frekuensi       4 kali sehari.

Dosis Pemberian Pakan

Untuk lebih jelasnya, dosis pemberian pakan pada pemeliharaan larva ikan kerapu cantang dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Dosis pemberian pakan

Umur Ikan (Hari) Jenis Pakan Dosis Keterangan
D0 Yolk egg
D1 Chlorella sp. 100-200 rb sel/ml 1x sehari
D2-D6 Branchionus plicatilis 5-10 ind/ml dipertahankan
Chlorella sp. 500 rb sel/ml 1x sehari
D7-D20 Branchionus plicatilis 10-15 ind/ml Dipertahankan
Chlorella sp. 500-1 jt sel/ml 1x sehari
Pakan buatan At satiation (secukupnya) D17, diberikan 4x sehari
D20-D30 Branchionus plicatilis 10-15 ind/ml dipertahankan
Chlorella sp. 500 rb sel/ml 1x sehari
Nauplius artemia 1-3 ind/ml 2x sehari
Pakan buatan At satiation (secukupnya) 4-6x sehari
D30-D40 Nauplius artemia 3-10 ind/ml 2x sehari
Pakan pellet At satiation (secukupnya) 7-10x sehari
D40-D50 Jambret Ad libitum (pakan selalu tersedia) 2x sehari
Pakan pellet At satiation (secukupnya) 10x sehari
D50-D60 Pakan daging ikan segar (di-blender)/teri nasi 3-5% bobot tubuh (At satiation) 2x sehari
Pakan pellet At satiation 10x sehari
> D60 Cacahan ikan 3-5% bobot tubuh (At satiation) 2x sehari
Pakan pellet At satiation (secukupnya) 10x sehari

Pengelolaan Kualitas Air

pergantian air dilakukan dengan melihat kondisi  larva.  Pergantian  air  dapat  dilakukan  mulai umur 8 – 20 hari  sebanyak  10 – 20%.  Pada umur 21 – 30  hari  pergantian  air  dapat  ditingkatkan  sebanyak  20 – 50%. Mulai umur 31 – 45 hari pergantian air dilakukan sebanyak 75 – 100 %. Mulai umur 51 hari sampai panen pergantian air dilakukan secara flowtroughsebanyak lebih dari 100%. Pergantian air dilakukan dengan cara pipa pengeluaran dicabut dan air dalam bak akan terbuang. Kran air pada pipa pemasukan kemudian dibuka agar air laut mengalir masuk ke dalam bak pemeliharaan

Penyiponan dilakukan dengan menggerakkan pipa sipon secara perlahan-lahan ke dasar bak yang terdapat kotoran secara hati-hati agar jangan sampai terjadi pengadukan kotoran dasar dan penyiponan dasar bak dilakukan dengan melihat kondisi larva dalam bak pemeliharaan.Penyiponan dapat dilakukan setelah larva D-20 atau dengan melihat kondisi dasar bak pemeliharaan larva apabila sudah kotor. Penyiponan bertujuan untuk membuang sisa hasil metabolisme, pakan buatan yang tidak termakan, dan kotoran lain yang mengendap di dasar bak pemeliharaan. Adapun pergantian air pada pemeliharaan larva ikan kerapu dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Pergantian air pada pemeliharaan ikan kerapu

No. Umur (hari) Pergantian Air Sipon
1 D0 Sipon telur mengendap
2 D1
3 D2
4 D3 – D7
5 D8 – D20 10 – 20%
6 D21 – D30 20 – 50% Sipon
7 D31 – D45 50 – 75% Sipon
8 D46 – D50 75 – 100% Sipon
9 D51 – Panen Ganti air 100% (flowtrough) Sipon

Adapun standar kualitas air yang harus dijaga selama masa pemeliharaan larva dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Standar kualitas air selama masa pemeliharaan larva

Parameter Kualitas air Nilai Alat Pengukur
Suhu air 28-32 0C Termometer
   Salinitas 28-35 ppt Salinometer/Refraktometer
   pH 7,9-8,3 Kertas lakmus/pH meter
  Oksigen terlarut >5 ppm DO meter
  Amonia <0,01 ppm Titrasi/tes kit
  Nitrit <1ppm Tes kit/ Metode spektrofotometer

Monitoring Pertumbuhan

Untuk mengetahui pertumbuhan, setiap 2 minggu sekali dilakukan sampling sebanyak 10 % dari populasi/perlakuan dengan mengukur panjang dan berat ikan. Sedang sintasan ikan dihitung pada akhir fase pemeliharaan pendederan dan akhir fase penggelondongan saja. Pengukuran terhadap panjang dan berat benih merupakan cara yang paling sederhana untuk mengetahui pertumbuhan benih selama masa pemeliharan. Untuk menyederhanakan sekaligus mengurangi banyaknya penanganan, pemantauan pertumbuhan cukup dilakukan dengan pengukuran panjang individu.

Hal ini karena standar yang umum digunakan di pasaran adalah ukuran panjang benih. Pelaksanaan sampling sebaiknya dilakukan bersamaan dengan kegiatan-kegiatan lain seperti saat grading atau pengobatan.  Sampling dapat dilakukan setiap dua minggu sekali sebanyak 10% – 20% dari total biomasa dan sekaligus memperhitungkan prosentase tiap-tiap ukuran yang ada

Penyeragaman Ukuran (Grading) dan Pendederan

grading bertujuan untuk menyeragamkan benih yang ditempatkan dalam suatu wadah dengan tujuan mengurangi sifat kanibal. Benih kerapu cantang sudah dapat di grading pada umur D-35 sampai dengan D-40. Penanganan grading yang tidak hati-hati akan mengakibatkan ikan mudah stress.

Benih ikan kerapu ditangkap menggunakan seser dan dimasukkan ke dalam baskom dan diberi aerasi. Benih tersebut masukkan ke dalam alat grading. Benih kerapu dipisahkan antara larva ukuran kecil, sedang dan besar. Larva yang sudah digrading, dimasukkan kedalam bak peneliharaan baru sesuai dengan ukurannya yaitu satu tempat utuk ukuran kecil, satu tempat untuk ukuran sedang dan demikian pula untuk ukuran yang besar.

Larva yang sudah digrading dipindahkan ke dalam baskom yang berisi air laut steril. Baskom yang berisi larva kemudian dipindahkan dan ditebar ke bak pendederan secara perlahan- lahan.

Weaning adalah salah satu cara yang dilakukan untuk merubah kebiasaan makan benih dari salah satu jenis pakan ke pakan lain.Pendederan dapat dilakukan langsung dalam bak. Untuk bak dengan kapasitas 10 m3 pendederan dapat  dilakukan dengan padat  penebaran 4.000 – 5.000 ekor

Pengendalian Hama dan Penyakit

penyakit pada ikan kerapu dapat disebabkan oleh faktor pathogen dan non pathogen. Ikan sakit akibat pathogen sering terjadi karena ikan tidak memadai, baik mutu, ukuran, dan jumlahnya. Sedangkan non pathogen disebabkan oleh faktor-faktor kualitas air, seperti (oksigen terlarut, suhu, salinitas, adanya senyawa atau gas  beracun).

Tindakan pencegahan untuk mengurangi terserangnya penyakit pada ikan kerapu antara lain:

  1. Mempertahankan kualitas air tetap baik.
  2. Mengurangi kemungkinan penanganan yang kasar.
  3. Pemberian pakan yang cukup, baik mutu, ukuran maupun jumlahnya.
  4. Mencegah menyebarnya organisme penyebab timbulnya penyakit dari bak pemeliharaanyang satu ke bak pemeliharaan yang lain.

Penyakit non pathogen yang menyerang induk dan larva kerapu dapat disebabkan oleh perairan budidaya maupun pakan. Penyakit karena lingkungan perairan dapat berupa acidosis, gas bubble disease, dan keracunan. Sedangkan untuk pencegahannya dilakukan dengan pemberian vitamin E secara teratur dan senyawa antioksidan metabolik dalam pakan Penyakit karena nutrisi dapat berupa rendahnya kualitas pakan dan defisiensi vitamin E.

penyakit pathogen yang menyerang larva ikan kerapu ialah bakteri (vibrio sp), parasiter (cacing pipih trematoda) dan penyakit viral (viral nervous necrosis virus). Upaya pengendalian penyakit viral hingga saat ini belum dapat ditemukan. Sedangkan upaya pencegahan dilakukan dengan pemelihaaran dan penanganan kualitas air yang baik, serta menjaga sanitasi lingkungan pemeliharaan.

Panen dan Pasca Panen

Panen

pemanenan dilakukan secara hati-hati agar ikan tidak stress. Sehari sebelum pemanenan, ikan dipuasakan terlebih dahulu untuk mengurangi kotoran (feces) dan mencegah muntah dalam kantong plastik pada saat pengangkutan.

Benih yang akan dipanen ditangkap menggunakan tudung saji kemudian dimasukkan ke dalam tudung saji yang lainnya untuk dihitung. Kantong benih diletakkan dalam baskom kemudian diisi dengan air laut steril. Benih yang sudah dihitung dimasukkan kedalam kantong benih dengan kepadatan 100 ekor/ kantong (disesuaikan dengan ukuran ikan dan lama pengakutan) dan diberi Kantong benih diikat dengan karet gelang dan dimasukkan kedalam sterofoam. Kotak sterofoam diberi es batu disekitar kantong benih. Sterofoam tersebut ditutup rapat dan diisolasi serta diberi label. Kotak sterofoam yang sudah ditutup rapat siap dikirim pada konsumen.

Pasca Panen

pengangkutan benih ikan dibagi menjadi dua yaitu menjadi yaitu dengan sistem terbuka dan tertutup. Pengiriman dengan sistem terbuka bisanya diterapkan untuk transportasi jarak pendek. Dalam transportasi memerlukan waktu kurang dari 3 jam dapat digunakan wadah sederhana, misalnya wadah drum dari plastik yang dipasang di kendaraan transportasi dan dipasok oksigen dari kompresor akan lebih baik dibandingkan wadah yang terbuat dari logam. Sedangkan untuk jangka waktu yang lebih lama diperlukan alat-alat khusus. Pengiriman benih ikan tertutup digunakan untuk transportasi jarak jauh dan menggunakan alat transportasi khusus seperti pesawat dan kereta api. Transportasi tertutup menggunakan kantong plastik yang dipasok oksigen. Pengemasan benih ikan dilakukan dengan kantong plastik rangkap. Penurunan suhu media air transportasi biasanya dilakukan  untuk mengurangi aktivitas metabolisme ikan.

Sebelum melakukan usaha pembenihan Kerapu  terlebih dahulu harus diketahui jenis  Kerapu  yang sedang diminati konsumen, termasuk informasi harganya. Sejauh ini pemasaran benih Kerapu untuk segala ukuran (3 – 10 cm) tidak terlampau sulit karena usaha pembesaran Kerapu, baik di keramba jaring apung (KJA), bak terkontrol, maupun di tambak, sudah banyak dilakukan. Daerah pemasaran Kerapu  di Indonesia antara lain Sumatera Barat, Batam, Kepulauan Bangka, Sumatera Selatan, Lampung, Bali, dan Irian Jaya. Sementara itu, daerah pemasaran Kerapu  di luar negeri antara lain Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Cina.

Sumber : https://www.semuaikan.com/