Tahapan praoperasional

Tahapan praoperasional

Pemikiran (Pra) Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.

Tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya melalui intuisi. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

  1. Tahapan operasional konkrit

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai.

Proses-proses penting selama tahapan operasional konkrit adalah :

  • Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
  • Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
  • Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
  • Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
  • Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
  • Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

sumber :

http://www.unmermadiun.ac.id/sewulan/index.php/2020/06/kinemaster-pro/

You might be interested in …

Tindakan pidana dan masyarakat

Pendidikan

Tindakan pidana dan masyarakat Dapat di yakini bahwa pada peradaban yang tinggi manusia dan setan semakin memainkan perananya, menjadi sifat yang hampir sama dan berseberangan dan sekarang banyak sekali orang melakukan hal yang aniaya(zhalim) dan bodoh (jahl) [1],bukanya mengikuti petunjuk yang di anugerahkan Allah sang pencipta melalui rosul dan nabinya sepanjang masa untuk mencegah dan membatasi […]

Read More
Siswa SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Berbagi Di Bulan Ramadhan 2019

Siswa SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Berbagi Di Bulan Ramadhan 2019

Pendidikan

Siswa SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Berbagi Di Bulan Ramadhan 2019 Bulan Ramadan menjadi momen penting bagi SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta untuk mengajak 237 siswa untuk semangat berbagi dengan warga masyarakat sekitar sekolah yang membutuhkan. Hal itu seperti yang dilakukan oleh sejumlah siswa yang membagikan paket sembako kepada warga pada Jumat (24/5/2019). Muhammad Arif […]

Read More
Karakter Untuk Indonesia Lebih Baik

Karakter Untuk Indonesia Lebih Baik

Pendidikan

Karakter Untuk Indonesia Lebih Baik Apakah itu karakter ?   Bagaimanakah sifat yang dimiliki oleh manusia yang berkarakter?  Seperti apakah implementasi pendidikan karakter?  Pertanyaan tersebut  selalu muncul tatkala kita mengkaitkan antara pendidikan karakter dengan sifat-sifat yang dihasilkan dari proses pendidikan karakter tersebut.  Pertanyaan tersebut menjadi pemicu kali ini.  P. Adrianus, seorang pengamat pendidikan provinsi Kalimantan Barat, menulis mengenai harapan akan manusia […]

Read More