Skelularisme sebagai Paradigma Pendidikan

Skelularisme sebagai Paradigma Pendidikan

Sekularisme adalah suatu paham yang memisahkan antara dunia dan akhirat, kehidupan dunia dan agama, pengalaman agama adalah masalah pribadi.

Jarang ada orang mau mengakui dengan jujur, sistem pendidikan kita adalah sistem yang sekular-materialistik. Biasanya yang dijadikan argumentasi, adalah UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab II Pasal 3 yang berbunyi, “Pendidikan nasional bertujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”

Tapi perlu diingat, sekularisme itu tidak otomatis selalu anti agama. Tidak selalu anti “iman” dan anti “taqwa”. Sekularisme itu hanya menolak peran agama untuk mengatur kehidupan publik, termasuk aspek pendidikan. Jadi, selama agama hanya menjadi masalah pribadi dan tidak dijadikan asas untuk menata kehidupan publik seperti sebuah sistem pendidikan, maka sistem pendidikan itu tetap sistem pendidikan sekular, walaupun para individu pelaksana sistem itu beriman dan bertaqwa (sebagai perilaku individu).

Sesungguhnya diakui atau tidak, sistem pendidikan kita adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Hal ini dapat dibuktikan antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: “Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan, dan khusus”.

Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomi semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.

Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui madrasah, institut agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek kehidupan.

  1. Permasalahan lain

Masalah-masalah cabang yang dimaksud di sini, adalah segala masalah selain masalah paradigma pendidikan, yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan. Masalah-masalah cabang ini tentu banyak sekali macamnya, di antaranya yang terpenting adalah sebagai berikut:

  1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi Yang Tidak Memperhatikan Masalah Agama

 Pendidikan Islam saat ini menghadapi masalah serius yang berkaitan dengan perubahan masyarakat yang terus menerus semakin cepat, lebih-lebih perkembangan ilmu pengetahuan yang hampir tidak memperdulikan  sistem suatu agama.

Kondisi sekarang ini, pendidikan Islam berada pada posisi determinisme historik dan realisme. Dalam artian bahwa, satu sisi umat Islam berada padaromantisme historis di mana mereka bangga karena pernah memiliki para pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan besar danmempunyai kontribusi yang besar pula bagi pembangunan peradaban dan ilmu pengetahuan dunia sertamenjadi transmisi bagi khazanah Yunani, namun di sisi lain mereka menghadapi sebuahkenyataan, bahwa pendidikan Islam tidak berdaya dihadapkan kepada realitas masyarakatindustri dan teknologi modern. Hal ini pun didukungdengan pandangan sebagian umat Islam yang kurangmeminati ilmu-ilmu umum dan bahkansampai pada tingkat “diharamkan”.

sumber :

Vikings – Age of Warlords 1.107 Apk for android

You might be interested in …

Acil Bimbo Acung Jempol Untuk WJFF

Acil Bimbo: Acung Jempol Untuk WJFF

Pendidikan

Acil Bimbo: Acung Jempol Untuk WJFF BANDUNG – Seniman musik yang sekaligus penggiat lingkungan Acil Bimbo mendukung penuh atas kegiatan West Java Forest Festival (WJFF) yang akan digelar Dinas Kehutanan Jabar  di Tahura Juanda Bandung, 10-11 Oktober 2015. Acil bahkan mengacungkan dua ibu jarinya untuk acara itu. “Ini hebat. Baru pertamakali ini digelar oleh Pemerintah […]

Read More
Pelanggaran terhadap HAM di Indonesia

Pelanggaran terhadap HAM di Indonesia

Pendidikan

Pelanggaran terhadap HAM di Indonesia Pelanggaran terhadap HAM di Indonesia mempunyai faktor penyebab yang sangat kompleks. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1. Masih belum adanya kesepahaman pada tataran konsep hak asasi manusia antara paham yang memandang HAM bersifat universal dan paham yang bersifat partikularisme. 2. Adanya pandangan bahwa HAM bersifat individualistik yang akan mengancam kepentingan umum […]

Read More
Cerpen tentang Politik

Cerpen tentang Politik

Pendidikan

Cerpen tentang Politik Foto-foto yang terselip di tiap halaman album kusam itu seakan menghidupkan sejarah yang telah berlalu. Sejarah yang penuh darah dan api perjuangan. Barangkali foto-foto itu menjadi bukti bahwa sejarah tak mampu dibohongi hanya dengan teriakan dan orasi-orasi semata. Sejarah itu kejam. Sejarah itu perlawanan. Sejarah itu pemerasan dan penindasan. Namun, sejarah juga […]

Read More