Sejarah Perjalanan Topeng Monyet di Indonesia

Sejarah Perjalanan Topeng Monyet di Indonesia

Sejarah Perjalanan Topeng Monyet di Indonesia

Sejarah Perjalanan Topeng Monyet di Indonesia
Sejarah Perjalanan Topeng Monyet di Indonesia

Sejarah Perjalanan Topeng Monyet di Indonesia- “Sarimin pergi ke pasar” Hayo Sobat langsung keinget apa? Yup…Topeng Monyet. Kata ini memang sering diucapkan sang pawang yang diiringi suara gamelan dan berbagai atribut yang digunakan Si monyet. Waktu kecil kita pasti sering melihat pertunjukan topeng monyet, menghibur dan aksi-aksi monyet yang menggemaskan yang membuat kita terpingkal-pingkal. Sekarang jangan hanya tahu untuk menikmati saja, mari berpengetahuan tentang asal usul sejarah topeng monyet yang sering kita tonton itu.

Ternyata atraksi Topeng Monyet termasuk dalam atraksi budaya yang sudah ada sejak tahun 1980-an

Kala itu permainan yang disukai anak-anak ini merupakan  kesenian tradisional yang sejak dahulu sangat dikenal di Indonesia, terutama di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Saat melakukan atraksinya, kesenian Topeng Monyet ini melibatkan seorang pawang diiringi suara musik gamelan mengiringi atraksi topeng monyet yang biasanya digelar di halaman sebuah rumah. Lalu monyet yang sudah diajarkan berbagai atraksi dengan lincahnya meliuk-liukkan badannya mengikuti instruksi sang pawang yang mendampinginya.

Meski sudah ada sejak 30-an tahun lalu, namun belum ada litelatur resmi tentang Topeng Monyet

Hanya beberapa tulisan yang mengindikasikan kehadiran topeng monyet di Indonesia. Seperti Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, dalam novel sejarah berjudul Roro Mendut pada 1981. Ia menyebut istilah topeng monyet sebagai kethek ogleng atau berarti monyet yang serba bergerak tak seimbang, kikuk, dan lucu dan dimanfaatkan untuk ngamen dalam pertunjukan topeng monyet.

Litelatur lain adalah ditemukannya dokumentasi foto koleksi Tropenmuseum Amsterdam, Belanda. Pada hasil jepretannya, Charles Breijer, anggota de Ondergedoken Camera atau juru foto Amsterdam yang bekerja di Indonesia pada 1947 sampai 1953 terdapat foto-foto topeng monyet seperti yang ada saat ini.

Sementara itu Matthew Isaac Cohen, dalam bukunya berjudul: The Komedie Stamboel: Popular Theater in Colonial Indonesia, 1891-1903 di halaman 341, menjelaskan bahwa atraksi monyet dan anjing terkait dengan perkembangan seni pertunjukan komersial di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19.

Selain pertunjukan komersial berskala besar seperti sirkus, kelompok akrobatik Jepang, operet, dan burlesque (pertunjukan drama atau musik yang bertujuan membuat tertawa), ada juga hiburan berskala kecil: panggung pesulap Eropa, India dan Cina; balloonists (orang yang mengoperasikan wahana balon terbang), pertunjukan anjing dan monyet, serta seniman boneka.

Istilah ‘pertunjukan anjing dan monyet’ yang disebut-sebut oleh Matthew Isaac Choen, kemudian dikutip oleh Peter J. M. Nas, dalam bukunya berjudul: The Indonesian Town Revisited. Dalam buku itu dia menulis sebuah catatan kaki tentang istilah topeng monyet.

Dalam catatan itu dia mengatakan, pertunjukan yang menampilkan monyet dan anjing (seperti ditulis Matthew) direproduksi di Indonesia. Di Jakarta, kata dia, dikenal dengan nama ‘topeng monyet’, sementara di Jawa disebut ledhek kethek.

Peter menambahkan, miniatur sirkus (topeng monyet) tersebut merupakan salah satu hiburan mengamen paling umum di pasar, jalan-jalan pedesaan, dan perkotaan di seluruh barat Indonesia

Pertunjukan akrobatik ini menjadi umum pada awal 1890-an. Dengan berbagai literartur tersebut, membuat asal-usul Topeng Monyet menjadi kurang jelas.

Meski belum diketahui secara pasti asal mula Topeng Monyet, tapi tetap saja permainan yang merakyat ini tetap ada hingga kini. Walaupun keberadaannya semakin tergerus oleh zaman, tergantikan oleh game-game seru. Terlebih kontroversi dari berbagai pihak terkait eksploitasi satwa tersebut.

Nah Sobat, semoga tulisan ini semakin menambah wawasan kamu tentang Topeng Monyet ya. Bagikan juga cerita kecilmu ini kepada teman lain.

Baca juga artikel: