Perbedaan Karya Ilmiah dengan Non-ilmiah

Perbedaan Karya Ilmiah dengan Non-ilmiah

Perbedaan Karya Ilmiah dengan Non-ilmiah

Perbedaan Karya Ilmiah dengan Non-ilmiah
Perbedaan Karya Ilmiah dengan Non-ilmiah

Perbedaan Karya Ilmiah dengan Non-ilmiah

Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek.

Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi.

Karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.

Dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.

 

Karya non-ilmiah bersifat, antara lain :

Emotif : merupakan kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi

Persuasif : merupakan penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative

Deskriptif : merupakan pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan

Jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.

 

Perbedaan Karya Ilmiah dengan Semi ilmiah

Bahasa dalam karangan ilmiah menggunakan ragam bahasa Indonesia resmi. Ciri-ciri ragam resmi yaitu menerapkan kesantunan ejaan (EYD/Ejaan Yang Disempurnakan), kesantunan diksi, kesantunan kalimat, kesantunan paragraph, menggunakan kata ganti pertama “penulis”, bukan saya, aku, kami atau kita, memakai kata baku atau istilah ilmiah, bukan popular, menggunakan makna denotasi, bukan konotasi, menghindarkan pemakaian unsur bahasa kedaerahan, dan mengikuti konvensi penulisan karangan ilmiah.

Terdapat tiga bagian dalam konvensi penulisan karangan ilmiah, yaitu bagian awal karangan (preliminaries), bagian isi (main body), dan bagian akhir karangan (reference matter).

Berbeda dengan karangan semi ilmiah, bahasa dalam karangan semi ilmiah/ilmiah popular dan non-ilmiah melonggarkan aturan, seperti menggunakan kata-kata yang bermakna konotasi dan figurative, menggunakan istilah-istilah yang umum atau popular yang dipahami oleh semua kalangan, dan menggunakan kalimat yang kurang efektif seperti pada karya sastra.

 

Jenis-jenis Karangan

Ditinjau dari cara menyampaikan masalahnya dalam karangan, maka karangan dapat dibagi menjadi beberapa jenis.

  1. Karangan narasi : Karangan narasi adalah karangan yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian dengan tujuan agar pembaca seolah-olah mengalami kejadian yang diceritakan itu.
  2. Karangan deskripsi : Karangan deskripsi adalah karangan yang menggambarkan sebuah objek dengan tujuan agar pembaca merasa seolah-olah melihat sendiri objek yang digambarkan itu.
  3. Karangan eksposisi : Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan sejumlah pengetahuan atau informasi dan pengetahuan dengan sejelas-jelasnya. Dikemukakan data dan fakta untuk memperjelas pemaparan.
  4. Karangan argumentasi : Karangan argumentasi adalah karangan yang bertujuan untuk membuktikan suatu kebenaran sehingga pembaca meyakini kebenaran itu. Pembuktian memerlukan data dan fakta yang meyakinkan.
  5. Karangan persuasi : Karangan persuasi adalah karangan yang bertujuan untuk mempengaruhi pembaca. Karangan ini pun memerlukan data sebagai penunjang.

Baca Juga :

You might be interested in …

Kemendikbud Anggarkan Bantuan Fasilitas Pendidikan untuk Banten

Kemendikbud Anggarkan Bantuan Fasilitas Pendidikan untuk Banten

Pendidikan

Kemendikbud Anggarkan Bantuan Fasilitas Pendidikan untuk Banten Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun anggaran 2017 dialokasikan untuk Provinsi Banten. Program tersebut meliputi Pembangunan Ruang Kelas Baru SMK sebesar (Rp 51,96 miliar), pembangunan ruang kelas baru SMA (Rp 32,78 miliar), bantuan operasional pendidikan PAUD (Rp 97,8 miliar), serta pembinaan kursus dan pelatihan (Rp 22,89 miliar). […]

Read More
Contoh - Contoh Kategori Cyber Crime

Contoh – Contoh Kategori Cyber Crime

Pendidikan, Umum

Contoh – Contoh Kategori Cyber Crime 1. Dengan kekerasan atau potensial mengandung kekerasan Serangan dengan ancaman (assault by threat) : Dilakukan dengan email, dimana pelaku membuat orang takut dengan cara mengancam target atau orang yang dicintai target Penguntitan di internet (cyberstalking) : Pelecehan seksual melalui internet yang menciptakan ketidaknyamanan dapat berkembang menjadi ancaman fisik dan […]

Read More
Dampak Negatif

Dampak Negatif

Pendidikan

Dampak Negatif > Menjadi Kecanduan Games pada umumnya dapat menyebabkan efek berkesinambungan untuk terus bermain game tersebut. Karena setiap game yang dibuat memiliki tujuan final seperti misalnya mencapai level tertinggi dengan equip yang keren atau menyelesaikan semua quest untuk melawan musuh terkuat dan menyelesaikan game tersebut. > Menjadi Malas > Kurang memperdulikan lingkungan disekitar kita […]

Read More