Penjelasan al-Qur’an terhadap Hukum

Penjelasan al-Qur’an terhadap Hukum

Penjelasan al-Qur’an terhadap Hukum

Ayat al-Qur’an dari segi kejelasan artinya

ada dua macam. Dalam surat Ali Imran ayat 7 disebutkan bahwa dua macam itu adalah muhkan dan mutasyabih.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Ayat-ayat muhkam

adalah ayat yang jelas maknanaya, tersingkap secara jelas yang menghindarkan keraguan arti dan menghilangkan kemungkinan-kemungkinan pemahaman. Adapaun ayat-ayat mutasyabih adalah kebalikannya yaitu lafadz yang tidak pasti artinya hingga dapat dipahami daripadanya dengan beberapa kemungkinan. Adanya kemungkinan berbagai pemahaman ini dapat disebabkan oleh dua hal, pertama, lafadz itu digunakan untuk dua maksud secara pemahaman yang sama. Contoh pada lafadz quru dalam firman Allah Al-Baqarah : 228 yang berarti suci atau haid. Kedua lafadz yang menggunakan nama atau kiasan yang menurut lahirnya mendatangkan keraguan. Keraguan ini disebabkan penggunaan sifat yang terdapat pada manusia untuk Allah SWT padahal diyakini bahwa Allah tidak akan sama dengan makhluk.

Ayat-ayat al-Qur’an yang disampaikan dalam bentuk yang muhkam secara penjelasan yang sempurna, penunjukannya terhadap hukum yang pasti (qath’i dilalah).tidak mungkin dipaham maksud yang lain dan tidak mungkin pula ditanggapi dengan tanggapan yang berbeda-beda. Penunjukkan ini pasti berlaku pada bidang akidah seperti keesaan Allah dan ibadah pokok seperti keharusan shalat, serta dalam hal yang norma baik dan buruk seperti keharusan berbakti kepada orang tua.
Ayat-ayat mutasyabih dalam bentuk penjelasan yang bersifat garis besar dan ayat-ayat yang mengandung isyarat, penunjukannya bersifat dzanni, dengan arti tidak meyakinkan. Karenanya dapat dipahami beberapa kemungkinan pemahaman. Penjelasan yang bersifat dzanni ini umumnya berlaku pada bidang muamalah dalam arti luas yang menganut hubungan manusia dengan sesamanya dalam kehidupan masyarakat. Dalam bidang inilah berlaku istilah :”Perubahan hukum berdasarkan perubahan waktu dan tempat serta berlaku pula reformulasi bila keadaan menghendaki.
Ibarat Al-Qur’an dalam menetapkan dan menjelaskan hukum yang berupa perintah dan larangan ada beberapa model, antara lain:

Suruhan

Suruhan, yang berarti keharusan untuk mengerjakan atau meninggalkan. Keharusan seperti perintah shalat, Allah berfirman yang artinya,”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat”. Larangan contohnya firman Allah dalam surah Al An’am ayat 151 yang artinya,”Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan hak”.
Janji baik dan buruk, pahala dan dosa serta pujian dan celaan. Ibarat, contohnya seprti istri yang ditalak harus menjalankan masa iddah.

Sumber: wfdesigngroup

You might be interested in …

KISAH NABI MUHAMMAD SAW

KISAH NABI MUHAMMAD SAW

Agama

KISAH NABI MUHAMMAD SAW Kelahiran Nabi Muhammad SAW Pada waktu umat manusia dalam kegelapan dan suasana jahiliyyah, lahirlah seorang bayi pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah. Bayi yang dilahirkan bakal membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia. Bapa bayi tersebut bernama Abdullah bin Abdul Mutallib yang telah wafat sebelum baginda dilahirkan iaitu sewaktu […]

Read More
Hal-hal yang berkaitan tentang orang yang tidak puasa atau orang yang merusak Puasanya

Hal-hal yang berkaitan tentang orang yang tidak puasa atau orang yang merusak Puasanya

Agama

Hal-hal yang berkaitan tentang orang yang tidak puasa atau orang yang merusak Puasanya   a. Mengkodlo’ puasa Menurut kitab Fath-Hul Mu’in, bahwasannya orang mengkodlo’ puasa wajib yang belum ia penuhi pada saat itu, baik orang tadi meninggalkan puasa karena udzur, itu hukumnya wajib untuk mengkodlo’ puasanya. Kecuali orang tersebut meninggalkan puasa dengan alasan gila atau […]

Read More

Arti Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Agama

Arti Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam Pengertian sunnah Menurut bahasa sunnah adalah jalan yang dilaui, baik terpuji maupun tercela. Sedangkan secara istilah adalah hal-hal yang datang dari Nabi Muhammad SAW, baik itu berupa ucapan (fi’liyah), perbuatan (qauliyah), ketetapan (taqririyah), sifat, kelakuan, perjalan hidup baik sebelum Nabi diangkat menjadi Rasul atau sesudahnya. Sunnah fi’liyah adalah perbuatan-perbuatan […]

Read More