Pengertian udzur dan Sebab Puasa

Pengertian udzur dan Sebab Puasa

Pengertian udzur dan Sebab Puasa

Pengertian udzur dan Sebab Puasa
Pengertian udzur dan Sebab Puasa

Pengertian Udzur

Secara bahasa, ‘)( عذر A dzara. berasal dari bahasa Arab, yang mempunyai makna menghalangi. Di sini maksudnya bahwa orang tersebut boleh tidak berpuasa, tetapi harus menerima konsekwensinya.

Udzur-udzur puasa

1. Orang Lanjut Usia

Jika orang Muslim atau wanita Muslimin mencapai usia tua dan tidak sanggup berpuasa maka di perbolehkan berbuka pada (siang hari).Dan sebagai ganti dari puasa yang dia tinggalkan adalah ia harus memberi makan (kepada faqir miskin) dari setiap harinya (meninggalkan puasa)yaitu satu mud. Tentang satu mud ini –sebagaimana telah lewat keterangganya ialah,1,1/3 kati menurut ukuran di negeri Irak,dan bisa di ungkapkan pula hal itu,dengan kati di kota Baghdad.Dan apabila orang tersebut tidak mampu untuk menggatinya dengan ukuran satu mud,ia boleh dengan satu genggam makanan,karena Abdullah bin Al-Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata,”Orang lanjut usia diberi keringganan untuk memberi makan setiap hari kepada orang miskin dan tidak mengganti puasa.” (Diriwayatkan Ad-Daruquthni dan Al- Hakim yang men-shahih-kannya).

2. Musafir (Orang yang Bepergian)

Jika musafir merasa puasa amat memberatkannya karena perjalanan yang ditempuh sangatlah jauh jarak qasar, yaitu 48 mil atau juga 80 km atau lebih, maka Allah Ta’ala memberi keringanan kepadanya untuk tidak berpuasa dengan syarat ia menggantinya ketika dia sudah kembali ke negerinya, karena Allah Ta’ala berfirman:

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[3], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

3. Wanita Hamil Dan Wanita yang Menyusui

Jika wanita Muslim hamil,mengkhawatirkan atas (bahaya yang mengancam kesehatan) dirinya yang akan di jumpai mereka sebab berpuasa,sebagaimana bahaya orang yang sedang sakit, maka mereka id perbolehkan tidak puasa,dan (tetapi) mereka wajib melaksanakan qadla’ puasa.

Dan jika mereka mengkhawatirkan kepada anak mereka,maksudnya khawatir akan “terjadi keguguran pada bayinya’’ di dalam hal orang yang hamil; dan khawatir “akan sedikitnya (berkurangnya air susu)’’ di dalam hal orang yang menyusui anak; maka mereka boleh tidak berpuasa,Hukum ini bersumber dari firman Allah Ta’alla:
184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

4. Karena khawatir dengan dirinya

Maksudnya disini adalah, apabila seseorang tersebut berpuasa, dia khawatir akan terjdi sesuatu dengan dirinya yang sesuatu ini dapat memadloroti bagi badannya, baik madlorot jasmani maupun rohaninya. Misalkan dari sang dokter seorang tersebut harus meminum air lebih dari 4 gelas setiap hari. Dan hal ini sudah dibuktikan olehnya ketika dia tidak meminum air lebih dari 4 gelas, dia tidak mempunyai daya. Hal seperti inilah yang membolehkan orang tidak berpuasa. Tapi orang tersebut harus ada konsekwensinya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/5-rukun-nikah-dalam-islam-yang-harus-diketahui/