Pengertian Sosialisai Politik

Pengertian Sosialisai Politik

Pengertian Sosialisai Politik

Pengertian Sosialisai Politik
Pengertian Sosialisai Politik

Pengertian Sosialisai Politik

1. Austin Ranney

Sosialisasi politik adalah proses perkembangan di mana seorang memperoleh orientasi politik dalam pola perilaku individu tersebut.

 

2. David F. Aberle, dalam “Culture and Socialization”

Sosialisasi politik adalah pola-pola mengenai aksi sosial, atau aspek-aspek tingkah laku,
yang menanamkan pada individu-individu keterampilan-keterampilan (termasuk ilmu
pengetahuan), motif-motif dan sikap-sikap yang perlu untuk menampilkan peranan-
peranan yang sekarang atau yang tengah diantisipasikan (dan yang terus berkelanjutan)
sepanjang kehidupan manusia normal, sejauh peranan-peranan baru masih harus terus
dipelajari.

 

3. S.N. Eisentadt, dalam “From Generation to Ganeration”

Sosialisasi politik adalah komunikasi dengan dan dipelajari oleh manusia lain, dengan
siapa individu-individu yang secara bertahap memasuki beberapa jenis relasi-relasi
umum. Oleh Mochtar Mas’oed disebut dengan transmisi kebudayaan.

 

4. Rod Hauge and Martin Harrop

adalah proses melalui mana kita belajar tentang politik. menyangkut terjadinya kepemilikan emosi, identitas dan keterampilan serta informasi. dimensi utama adalah apa yang orang belajar (konten), ketika mereka belajar itu (waktu dan urutan) dan dari siapa (agen).

Profil Pengembangan Diri dalam Sosialisasi Politik.

Proses sosialisasi berlangsung sejak dia lahir hingga mati. Banyak variasi terhadap proses sosialisasi tersebut baik setiap individu maupun setiap negara, namun secara umum Austin Ranney mengungkapkan proses atau siklus sosialisasi tersebut adalah sama, diantaranya:

1. Permulaan/Awal (Beginnings)
Sosialisasi politik pada tahap ini, dimulai pada awal usia tiga atau empat tahun, ketika seorang anak melihat beberapa objek politik dasar seperti: polisi, pemerintah sebagai individu di luar lingkungan tempat tinggal mereka. Dalam tahap ini pula, memilki identifikasi seorang anak lebih emosional daripada konten kognitif.

2. Masa kanak-kanak (Childhood)
Pada tahap ini, mereka bergerak dari konsepsi-konsepsi yang sangat pribadi seperti kata”pemerintah” sebagai sinonim atau memilki sedikit persamaan “Kantor Polisi”. Dalam tahap ini pula, mereka mengetahui kejelasan identitas yang berbeda dan kegiatan presiden, polisi, dll. Pemahaman perbedaan ini mengambarkan bahwa pada masa ini umumnya pemahaman individu berkembang dari individual dan personal ke lebih umum dan abstrak.

3. Masa Remaja (Adolescence)
Tahap ini ditandai dengan telah mengalaminya masa pubertas. Dalam tahap ini biasanya seorang anak sudah bisa menunjukan siakp tidak sepenuhnya setuju atau kontra terhadap suatu bentuk perubahan politik. Teman sepermainan sangat berpengaruh dalam tahap ini dikarenakan masa ini adalah jembatan menuju kedewasaan, sehingga mereka berusaha mencari jati diri dan lingkungan yang membuatnya nyaman.

4. Masa Dewasa (Adulthood)
Dalam masa ini, individu sudah sangat memahami tentang pemerintahan dan politik. Sehingga pada masa ini individu mulai paham dimana suatu kebijakan yang dibuat oleh pemerintah berhasil atau tidak. Kehausna informasi mulai mereka cari sendiri baik melalu sumber primer maupun sumber sekunder. Pada tahap ini pula, penilaian individu terhadap suatu masalah lebih dipahamai berdasarkan pemikiran logis dibandingkan dengan emosional semata.

Agen Sosialisasi Politik

Menurut Austin Ranney, agen sosialisasi tersebut adalah:

1. Keluarga

Merupakan tempat pertama dan utama bagi seorang anak untuk tumbuh dan berkembang.keluarga merupakan dasar pembantu utama struktur social yang lebih luas, dengan pengertian bahwa lembaga lainya tergantung pada eksistensinya. Bagi keluarga inti (nuclear family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan diperluas (extended family), agen sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri atas beberapa keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping anggota keluarga inti. Fungsi keluarga antara lain: (1) Pengaturan seksual; (2) Reproduksi; (3) Sosialisasi; (4) Pemeliharaan; (5) Penempatan anak di dalam masyarakat; (6) Pemuas kebutuhan perseorangan; (7) Kontrol sosial.( Munandar 1989).

 

2. Lembaga pendidikan formal (Sekolah)

Lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity).[5] Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab. Sehingga sekolah dirasa sebagai tempat yang cukup efektif dalam mendidik seorang anak untuk memupuk rasa tanggung jawab untuk kewajiban dan haknya. Di sekolah, individu juga diajarkan bagaimana cara berpartisipasi dalam kegiatan politik.

Sumber : https://blog.dcc.ac.id/bpupki-sejarah-anggota-tugas-dan-pembentukannya/