Pengajaran Ilmu Agama di Pondok Pesantren

Pengajaran Ilmu Agama di Pondok Pesantren

Pengajaran Ilmu Agama di Pondok Pesantren

Pengajaran Ilmu Agama di Pondok Pesantren
Pengajaran Ilmu Agama di Pondok Pesantren

Pengajaran Ilmu Agama

Pengajaran ilmu-ilmu agama di pesantren, pada umumnya dilaksanakan lewat pengajaran kitab-kitab klasik, di samping ada sebagian pesantren yang memakai kitab-kitab berbahasa arab yang tidak tergolong pada kitab-kitab klasik

a. Pengajian Kitab-Kitab Non Klasik

Kitab-kitab islam klasik yang lebih populer dengan sebutan kitab kuning, ditulis oleh ulama-ulama islam pada zaman pertengahan, kepintaran dan kemahiran seorang santri diukur dari kemampuannya membaca kitab-kitab serta mensyarahkannya (menjeleskan) isi kandungan kitab-kitab tersebut. Agar bisa membaca dan memahami dengan benar, seorang santri dituntut lebih dahulu untuk memahami dengan baik ilmu-ilmu bantu seperti nahwo, shorof, balaghoh, ma’ani, bayan dsb, salahsatu persyaratan seorang telah memenuhi kriteria sebagai kiai atau ulama adalah kemampuannya membaca serta menjelaskan isi kitab-kitab tersebut. Karena sedemikian tinggi posisi kitab-kitab islam klasik, maka setiap pesantren selalu mengadakan pengajian kitab kuning. Kendatipun sekarang telah banyak pesantren yang memasukkan pelajaran umum, namun pengajian kitab-kitab klasik tetap diadakan. Pesantrn biasanya membuat jadwal pengajian kitab-kitab klasik tersebut, lengkap dengan jadwal waktu, tempat, kiai yang mengajar, serta kitab yang dibawa. Adapun kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat di golongkan kepada 8 kelompok : nahwu/shoroff, fiqih, ushul fiqih, hadits, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika, serta cabang-cabang ilmu lainnya seperti tarikh dan balaghoh.

b. Pengajian Kitab-Kitab Islam Non Klasik

Bagi pesantren modern, pengajian kitab-kitab islam klasik tidak mengambil bagian yang penting, pengajian ilmu-ilmu agama diambil dari kitab-kitab berbahasa arab yang disusun oleh ulama-ulama yang tergolong mutaakhir, seperti: Mahmud Yunus, KH Imam Zarkasyi, Abdul Hamid Hakim, Umar Bakri dll. Terlepas dari pembicaraan kelebihan dan kekurangan dari kedua macam bentuk kitab-kita tersebut di atas, jelaslah salah satu unsur yang paling pokok dalam suatu pesantren adalah pengajian agama.

TRADISI KEILMUAN PESANTREN

Tradisi keilmuan pesantren bersumber pada dua golongan, yaitu golongan pengetahuan keislaman yang datang ke kawasan nusantara pada abad ke-13 masehi, bersamaan dengan masuknya islam kemari dalam lingkup yang luas, dan yang kedua, gelombang ketika para ulama kawasan nusantara menggagali ilmu disemenanjung Arabia, khususnya dimakah dan kembali setekah itu ke tanah airuntuk mendirikan pesantern-pesanteren besar. Kedua gelombang ini lah yang menjadi sumber dari tradisi Islam yang berkembang di pesantren. Namun pada abad ke-19 terjadi perubahan yang berangsur-angsur, seperti adanya pelayaran dengan kapal motor secara teratur antara eropa dan Hindia Belanda yang berangsur semenjek dibukanya terusan Sues pada awal abad ke-19. dengan demikian, terjadilah pengiriman anak-anak muda dari kawasan Nusantara untuk belajar di Timur Tengah dan akhirnya meraka mengahsilkan korps ulama yang tangguh yang mendalami ilmu agama disemenanjung Arabia, terutama di Makkah. Lahirlah ulama-ulama besar seperti Kiai Nawawi Banten, Kiai Mahfudz Tremas, Kiai Abduk Ghoni Bima, Kiai Arsyad Banjar, Kiai Abdus Shomad Palembang, Kiai Hasyim Asy’ary, Kiai Khalil Bangkalan, dan deretan ulama lain yang tidak terputus-putus sampai hari ini. Mereka ini membawakan orientasi barupada manifestasi meilmuan di lingkungan pesantren yaitu orientasi pendalaman ilmu fiqih secara tuntas

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/