PANDANGAN HISTORIS PADA PEMERINTAHAN KOLONIAL BELANDA

  1. PANDANGAN HISTORIS PADA PEMERINTAHAN KOLONIAL BELANDA

Secara historis pada masa pemerintah kolonial Belanda, mayoritas anak-anak bangsa Indonesia asli) tidak dapat mengenyam pendidikan formal, sehingga sebagian besar dari mereka harus bekerja pada pertanian-pertanian skala besar maupun industri-industri yang dikelola oleh Hindia Belanda. Hanya sebagian kecil anak-anak orang Indonesia yaitu mereka dari golongan priyayi atau bangsawan, maupun orang Golongan Timur. Kondisi masyarakat yang berlapis dan diskriminatif dengan lapisan atas yang jumlahnya sedikit dan sebagian terbesar pada lapisan bawah, mengakibatkan sebagian besar anak-anak Indonesia pada masa itu telah akrab dengan “bekerja” baik di sektor domestik maupun sektor publik yang bermotifkan pada membantu kehidupan keluarga.

Keadaan tak jauh berbeda pada masa sekarang ini. Sekitar 80%-90%  persen anak-anak di Indonesia masih belum mendapatkan hak pendidikan dan jika permasalahan ini tidak ditangani secara serius dan baik, maka bangsa ini akan kehilangan generasi penerus. Alih-alih belajar, anak-anak tersebut malah menghabiskan waktunya untuk bekerja. Hal yang sangat mencolok ialah keberadaan anak jalanan yang terus menjamur di kota-kota besar. Keberadaan anak jalanan menurut hasil Survey tahun 1999 ADB-Depsos-Universitas Atmajaya pada 12 kota diperkirakan kurang lebih 40.000 anak, dimana 48 % dari mereka merupakan pendatang baru dari hasil penelitiannya 12 % anak jalanan itu perempuan dari keseluruhan 60 % telah meninggalkan bangku sekolah dan 20 % masih tinggal bersama orang tuanya.

Perlunya penggalangan di sektor swadaya pendidikan guna menanggulangi perkembangan populasi kehidupan anak jalanan yang kian hari makin bertambah, hal ini perlu penelitian yang lebih cermat terhadap kehidupan anak jalanan tersendiri. Dilingkungan masyarakat ekonomi ke bawah pada umumnya melibatkan anak-anaknya untuk hidup di jalanan kondisi ini sangat memprihatinkan bila tidak diperhatikan nantinya banyak menimbuilkan permasalahan baru, karena anak jalan seharusnya menjadi beban negara khususnya pemerintah. Pandangan hidup di kemudian hari bagi anak jalanan tidak jelas keberadaannya maupun dalam segi status sosial anak itu sendiri. Banyaknya komunitas di kelompok masyarakat mampu dan berpendidikan dan kelompok silibritis kurang peduli dengan kehadiran anak jalanan berpotensial rawan.

Tabel: Perbandingan Jumlah Anak pada Tahun 1961 dan 1992

sumber :

You might be interested in …

Humanisme

Pendidikan

Humanisme Manusia secara fitrah memiliki bekal yang sama dalam upaya memahami sesuatu. Implikasi wawasan tersebut dalam kegiatan pendidikan   Guru bukan satu-satunya sumber informasi   b.Siswa disikapi sebagai subjek belajar yang kreatif mampu menemukan pemahaman sendiri.   Dalam proses belajar mengajar, guru lebih banyak bertindak sebagai model, teman pendamping, pemotivasi, penyedia bahan pembelajaran, aktor yang […]

Read More
Jenis-Jenis Plate Orifice

Jenis-Jenis Plate Orifice:

Pendidikan

Jenis-Jenis Plate Orifice: 1.      Concentric Orifice Concentric Orifice merupakan jenis orifice yang paling banyak digunakan. Profil lubang orifice ini mempuyai takik (bevel) dengan kemiringan 45° pada tepi bagian downstream(lihat gambar di bawah). Hal ini akan mengurangi jarak tempuh dari aliran tersebut mengalami perbedaan tekanan melintang. Setelah aliran melewati orifice akan terjadi penurunan tekanan dan kemudian mencoba […]

Read More

Proses Perjalanan Pancasila menuju Era Globalisasi

Pendidikan

Proses Perjalanan Pancasila menuju Era Globalisasi Pancasila terlahir dalam nuansa perjuangan dengan melihat pengalaman dan gagasan-gagasan bangsa lain, tetapi tetap berakar pada kepribadian dan gagasan-gagasan bangsa Indonesia sendiri. Oleh sebab itu, Pancasila bisa diterima sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Sejarah telah mencatat, kendati bangsa Indonesia pernah memiliki tiga kali pergantian UUD, tetapi rumusan Pancasila tetap […]

Read More