Manfaat Studi Kasus

Manfaat Studi Kasus

Manfaat Studi KasusManfaat Studi Kasus

Pada dasarnya peneliti yang menggunakan metode penelitian studi kasus bertujuan untuk memahami objek yang ditelitinya. Meskipun demikian, berbeda dengan penelitian yang lain, penelitian studi kasus bertujuan secara khusus menjelaskan dan memahami objek yang ditelitinya secara khusus sebagai suatu ‘kasus’.

Keistimewaan Studi Kasus
Studi kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik, yakni menyajikan pandangan subjek yang diteliti.
Studi kasus menyajikan uraian menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca dalam kehidupan sehari-hari.
Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan hubungan antara peneliti dan responden.
Studi kasus memungkinkan pembaca untuk menemukan konsistensi internal yang tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga keterpercayaan (trust-worthines).
Studi kasus memberikan “uraian tebal” yang diperlukan bagi penilaian atas transferabilitas.
Studi kasus terbuka bagi penilaian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan atas fenomena dalam konteks tersebut.

Marilah kita bahas satu per-persatu dari 5 (lima) kesalahpahaman menurut Bent Flyvbjerg tersebut.

1. Misunderstanding 1: General, theoretical (context-independent) knowledge is more valuable than concrete, practical (context-dependent) knowledge.

Kesalahpahaman ini muncul karena adanya ‘kepercayaan’ yang sangat mendalam dari kaum positivistik bahwa teori-teori general yang sudah diakui kebenarannya selama ini adalah yang telah dibangun dan diuji melalui berbagai penelitian, sehingga semakin mendekati kebenaran yang mendekati mutlak. Oleh karena itu, tentu saja harus dipadang lebih bernilai dibandingkan dengan pengetahuan yang dibangun dari penelitian praktis dan konkret yang selama ini dilakukan melalui penelitian studi kasus pada khususnya dan penelitian kualitatif dengan paradigma postpositivistik pada umumnya. Sementara itu, menurut Ruddin (2006, hal 798-799), penelitian yang bersifat praktis-konkrit memiliki keunggulan lain, yaitu bersifat evaluatif terhadap penerapan teori-teori general tersebut yang hasilnya sangat bermanfaat bagi perbaikan dan bahkan penemuan-penemuan baru yang lebih baik dan orisinil; dan untuk menunjukkan pencapaian kebenaran (truth) baru yang telah dilakukan manusia berdasarkan kepada kehidupan yang nyata. Jadi menurut pada penganut pendekatan postpostivistik ini, penelitian kualitatif, termasuk penelitian studi kasus memiliki peran dan posisinya tersendiri terhadap pengembangan pengetahuan.

2. Misunderstanding 2: One cannot generalize on the basis of an individual case; therefore, the case study cannot contribute to scientific development.

Kesalahpahaman ini muncul karena adanya logika dari para penganut positivistik yang beranggapan bahwa bagaimana mungkin satu kasus (yang dilogikakan ‘satu kasus’ sama dengan ‘satu sampel’ pada penelitian kuantitatif) dapat merepresentasikan suatu populasi yang sedemikian banyaknya. Logika ini langsung dibantah bahwa kasus tidak dapat disamakan dengan sampel, karena pada dasarnya kasus mewakili dirinya sendiri, bukan sebagai representasi dari suatu populasi. Oleh karena itu, obyek penelitian yang telah dipandang sebagai kasus, harus diteliti secara komprehensif, holistik dan menyeluruh, karena hasilnya harus dapat mendiskripsikan kasus tersebut secara lengkap dan utuh. Hasil penelitian terhadap kasus yang menyeluruh itu sendiri tentu saja dapat menyumbangkan pada pengembangan pengetahuan. Contohlah, apabila selama ini pengembangan teori arsitektur benteng kolonial di Indonesia selama ini selalu mengacu pada benteng buatan Belanda, tetapi jika arsitek telah meneliti sebuah benteng kolonial buatan Inggris yang satu-satunya ada di Indonesia, yaitu di Bengkulu, maka melalui hasil penelitiannya itu, ia akan menyumbangkan pengetahuan dan bahkan teori arsitektur benteng kolonial Indonesia yang lain, yang baru dan orisinil.

3. Misunderstanding 3: The case study is most useful for generating hypotheses; that is, in the first stage of a total research process, whereas other methods are more suitable for hypotheses testing and theory building.

Kesalahpahaman ini muncul karena adanya anggapan dari kaum positivistik bahwa kasus hanya bermanfaat untuk membangun hipotesis penelitian yang dilakukan pada bagian awal penelitian. Sedangkan, bagian yang terpenting dari penelitian adalah menguji hipotesis dengan sampel responden yang lebih banyak. Dengan kata lain, hasil dari penelitian studi kasus harus digeneralisasi melalui penelitian dengan pendekatan positivistik, agar kebenaran yang dihasilkan diakui secara lebih luas. Sesungguhnya, seperti telah dijelaskan pada kesalahpahaman nomer satu, kasus harus dipandang sebagai sesuatu yang mewakili dirinya sendiri. Oleh karena itu, pengetahuan dan kebenaran yang dihasilkan dari penelitian terhadap kasus tersebut sangat melekat pada konteks kasus tersebut, sehingga tidak dapat digeneralisasikan seperti halnya pada penelitian positivistik. Meskipun demikian, kebenaran dan pengetahuan yang dihasilkan dari suatu penelitian studi kasus sering menjadi ‘ilham’ atau ‘stimulan’ bagi para peneliti positivistik untuk melakukan penelitian kuantitatif.

 

Sumber: https://tokopediaaplikasi.id/twitter-rayakan-ulang-tahun-ke-10-tagar/

You might be interested in …

Resep Acar Timun Mentah Wortel dan Nanas, Menu Penting Idul Adha

Umum

Resep Acar Timun Mentah Wortel dan Nanas, Menu Penting Idul Adha Acar mentah tidak hanya dihidangkan sebagai cara untuk membuat selera makan bertambah. Lebih dari sekedar pelengkap atau pendamping maupun sebagai menu penyegar, akan tetapi acar mentah yang terdiri dai mentimun, wortel dan nanas juga diyakini memiliki manfaat menjaga dan menurunkan kadar kolesterol serta mengontrol […]

Read More

downward counterfactuals

Umum

Pemikiran Konterfaktual Misalnya Anda melaksanakan ujian penting; ketika Anda menerima hasilnya, nilainya adalah C —jauh lebih rendah dari yang Anda harapkan. Apa yang ada di benak Anda mengenai nilai Anda itu? Jika Anda seperti kebanyakan orang, Anda mungkin dengan cepat mulai membayangkan “apa yang akan terjadi seandainya…” yaitu mendapat nilai yang lebih tinggi —selain pemikiran […]

Read More
Plate Orifice

Plate Orifice

Pendidikan, Umum

Plate Orifice Pengertian plate orifice Orifice merupakan salah satu komponen dari perangkat primer (primary device) untuk mengukur aliran dengan menggunakan prinsip mengubah kecepatan aliran, riilnya yaitu mengubah luasan yang dilalui aliran fluida tersebut (orifice). Orifice adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengukur laju aliran volum atau massa fluida di dalam saluran yang tertutup (pipa) […]

Read More