Kemendikbud Kebut Peningkatan Mutu Guru

Kemendikbud Kebut Peningkatan Mutu Guru

Kemendikbud Kebut Peningkatan Mutu Guru

Kemendikbud Kebut Peningkatan Mutu Guru
Kemendikbud Kebut Peningkatan Mutu Guru

Mutu guru masih jadi kendala tersendiri bagi pemerintah, terutama Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Terlebih, peningkatan mutu guru ini menjadi salah satu program prioritas 2020 untuk mendukung kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) sesuai arahan Presiden Joko Widodo.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Supriano, akan memberlakukan pelatihan guru dengan metode terbaru, yakni metode in dan on. Metode ini dirancang untuk merespons hasil Ujian Nasional (UN) yang diberikan sampai level analisis capaian butir soal dan bermanfaat untuk mendiagnosa kelemahan pembelajaran di suatu zona.

Dengan beberapa kajian, pihaknya mengubah siklus pelatihan guru dengan metode

yang dinamakan metode in dan on sebanyak 82 jam, dengan perincian lima kali in dan tiga kali on. “Pelatihan skema ini dimulai dari tahap guru bertukar pikiran hingga evaluasi perubahan kelas yang selama ini belum pernah dilakukan. Dulu guru yang sudah selesai pelatihan langsung pulang dan tak ada kontrol lagi,” kata Supriano di gedung Kemendikbud, Jakarta, belum lama ini.

Terdapat beberapa tahap dalam proses pelatihan in dan on. Pertama,

instruktur nasional melatih guru inti yang merupakan guru berprestasi di setiap mata pelajaran dari semua zona. Para guru inti ini akan bertang gung jawab di mata pelajaran per zona. Kedua, pelatihan dimulai dengan in. Ketika in pertama, terjadilah refleksi di antara guru terkait kendala dengan mengacu pada UN, kompetensi inti dan kompetensi dasar (KI-KD) dan lainnya.

Pada in kedua, dibuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berbeda

antara guru satu dengan yang lain. Setelah RPP selesai di in dua, masuk ke on 1 yakni guru kembali ke kelas untuk mengajar. “Dari hasilnya, disampaikan bagaimana mengajar yang menyenangkan, menggali agar anak bisa bertanya. Di sini terjadi proses. Setelah on 1 masuk lagi in 3. Misal ternyata di kelas ada masalah. Terjadi lagi perbaikan di in 3. Masuklah on 2, dipraktikkan lagi hasil dari musyawarah perbaikan. Setelah on 2, masuk lagi ke in 4, perbaikan dan diskusi lagi, masuk lagi ke on 3. Masuklah lagi ke in 5 untuk penyempurnaan atau perumusan best practice. Kalau dihitung, 3 on 5 in, itu 82 jam,” paparnya.

 

Sumber :

https://www.surveymonkey.com/r/SNJD2NS