Kegiatan pertukaran barang dan jasa antara Indonesia dan luar negeri

Kegiatan pertukaran barang dan jasa antara Indonesia dan luar negeri

Secara umum pertukaran barang dan jasa antara satu negara dengan negara lain dilakukan dalam bentuk kerjasama antar lain:

  1. Kerjasama Bilateral

Kerjasama bilateral adalah kerjasama yang dilakukan oleh kedua negara dalam pertukaran barang dan jasa.

Contoh : Kerjasama bilateral Indonesia – Australia di bidang Pertanian khususnya sector peternakan telah berlangsung dalam waktu yang lama. Australia telah membantu Indonesia lebih dari 20 tahun untuk memberantas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), dan kini Indonesia termasuk negara yang bebas PMK dan diakui secara internasional. Australia juga telah membantu Indonesia membangun Balai Penelitian Peternakan di Ciawi – Bogor.

Kerjasama di bidang pertanian antara Indonesia dan Australia diwadahi dalam suatu Working Group yaitu WGAFC. Pada pelaksanaan Sidang WGAFC XI di Melbourne, Ketua WGAFC Australia dipimpin Dr. Paul Morris, Executive Manager of Market Access and Biosecurity-AFFA, sedangkan Ketua WGAFC XI Indonesia adalah Dr. Delima Hasri Azahari. Struktur organisasi WGAFC terdiri dari 4 Task Force yaitu (1) Task Force on Crops and Plant Products, (2) Task Force on Agribusiness and Support System, (3) Task Force on Livestock and Animal Products, (4) Quarantine Consultation.

  1. Kerjasama regional

Kerjasama regional adalah kerjasama yang dilakukan dua negara atau lebih yang berada dalam satu kawasan atau wilayah tertentu.

Contoh : Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) merupakan forum kerja sama ekonomi Lingkar Pasifik yang didirikan di Canberra, Australia pada tahun 1989. APEC saat ini beranggotakan 21 Ekonomi, yaitu Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Cili, China, Hong Kong-China, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Filipina, Papua New Guinea, Rusia, Singapura, Thailand, China Taipei, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Sebagai salah satu forum kerja sama ekonomi utama di kawasan, APEC bertujuan untuk mencapai Bogor Goals, yaitu terciptanya liberalisasi perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasifik sebelum tahun 2010 untuk anggota Ekonomi Maju dan sebelum tahun 2020 untuk anggota Ekonomi Berkembang. Dalam mencapai Bogor Goals, APEC melandaskan kerjasama yang dibangun pada tiga pilar, yaitu liberalisasi perdagangan dan investasi, fasilitasi bisnis, dan kerjasama ekonomi dan teknik (ECOTECH).

Kerja sama di forum APEC dibangun atas dasar konsensus seluruh anggotanya dan bersifat tidak mengikat (non-legally binding). Komitmen bersama yang disepakati dalam APEC tersebut diwujudkan secara concerted unilateralism atau berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kesiapan kapasitas masing-masing anggota.

sumber :

https://galleta.co.id/world-war-2-apk/

You might be interested in …

Sintesis Protein

Pendidikan

Sintesis Protein Sebagian besar pada akhirnya diekspresikan sebagai protein. Proses pengerjaannya disebut ekspresi gen. pertama-tama sekuens deoksinukleotida ditranskripsi dari DNA kedalam sekuens ribonukleotida (RNA kurir atau mRNA). Kemudian sekuens ini ditranslasi kedalam sekuens asam amino untuk membentuk polipeptida. Sekuens asam amino menentukan bagaimana cara molekul melipat untuk menghasilkan protein yang aktif secara biologis. Dalam sel […]

Read More
Unpad Siap Kembangkan Ekonomi Syariah

Unpad Siap Kembangkan Ekonomi Syariah

Pendidikan

Unpad Siap Kembangkan Ekonomi Syariah BANDUNG–Rektor Unpad, Tri Hanggono Ahmad mengatakan Unpad siap membantu dalam mengembangkan perbankan syariah di wilayah Jabar. “Untuk itu, perlu adanya persiapan untuk mendukungnya, terutama dari sisi akademis. Unpad siap disana,” ujarnya, Kamis (20/4). Rektor menambahkan salah satu bank syariah nasional, yakni Bank Syariah Mandiri (BSM) harus bersiap menghadapi peluang dan […]

Read More
Pelindungan Bahasa dan Sastra Daerah Perlu Sinergisitas

Pelindungan Bahasa dan Sastra Daerah Perlu Sinergisitas

Pendidikan

Pelindungan Bahasa dan Sastra Daerah Perlu Sinergisitas rangka pelindungan bahasa dan sastra daerah, di­perlukan rencana strategis dan sinergisitas program dari lem­baga-lembaga yang berkepen­tingan. Tanpa adanya sinergi, setiap lembaga akan mem­buat program masing-masing yang dapat jadi program terse­but menjadi tumpang tindih atau duplikasi sehingga secara ekonomi merupakan pembo­rosan. Hal tersebut dikatakan Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia […]

Read More