Islam Budaya Jawa tentang Sastra Jawa

Islam Budaya Jawa tentang Sastra Jawa

Islam Budaya Jawa tentang Sastra Jawa

Islam Budaya Jawa tentang Sastra Jawa
Islam Budaya Jawa tentang Sastra Jawa

Pengertian sastra

Sastra sebagai istilah yang menunjuk pada suatu ilmu dengan bahasan yang luas, yang meliputi teori sastra ( membicarakan pengertian-pengertian dasar tentang sastra, unsur-unsur yang membentuk suatu karya sastra, jenis-jenis sastra dan perkembangan pemikiran sastra ), sejarah sastra ( membicarakan dinamika tentang sastra, pertumbuhan atau perkembangan suatu karya sastra, tokoh-tokoh dan cirri-ciri dari masing-masing tahap perkembangan suatu karya sastra).

Sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta, berasal dari akar kata ‘sas’, yang dalam kata kerja turunan berarti ‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk/intruksi’. Akhiran ‘tra’ menunjuk pada alat, sarana, sehingga sastra berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Biasanya kata sastra diberi awalan ‘su’ ( menjadi susastra ). Su artinya ‘baik’, indah, sehingga istilah susastra berarti pengajaran atau petunjuk yang tertuang dalam suatu tulisan yang berisi hal-hal yang baik dan indah, dengan kata lain,belles-letters( tulisan yang indah dan sopan ).

Perkembangan Sastra Hasil Interrelasi Islam dan Jawa

Sebagai bahan dasar sastra (kesusasteraan) adalah bahasa. Bahasa yang digunakan dalam kesusasteraan memang berbeda dengan bahasa keilmuan maupun bahasa yang digunakan sehari-hari.Bentuk karya sastra juga ada beberapa macam, meliputi; (1) Karya sastra yang berbentuk prosa, (2) karya sastra yang berbentuk puisi dan (3) karya sastra yang berbentuk drama.Bicara mengenai sastra tidak lepas dari fungsi dan sifatnya. Karya sastra lebih berfungsi untuk menghibur dan sekaligus memberi pengajaran sesuatu terhadap manusia. Sastra juga berfungsi untuk mengungkapkan adanya nilai keindahan (yang indah), nilai manfaat (berguna), dan mengandung nilai moralitas (pesan moral).

Maksud keterkaitan antara Islam dengan karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang bersifat imperative moral atau mewarnai. Islam mewarnai dan menjiwai karya-karya sastra Jawa baru, sedangkan puisi (tembang/sekar macapat) dipakai untuk sarana memberikan berbagai petunjuk/nasehat yang secara subtansial merupakan petunjuk/nasehat yang bersumber pada ajaran Islam.Hal ini terjadi karena para pujangga tersebut jelas beragama Islam. Kualitas keislaman para pujangga saat ini tentunya berbeda dengan kualitas saat sekarang ini. Jadi, para pembaca seharusnya menyadari bahwa pengetahuan ajaran Islam saat itu (abad 18-19) belum sebanyak seperti sekarang ini, sehingga dalam menyampaikan petunjuk/nasehat para pujangga melengkapi diri dari kekurangannya mengenai pengetahuan ke-islaman dengan mengambil hal-hal yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Artinya, munculnya tembang/sekar macapat ini berbarengan dengan munculnya Islam di Jawa, yaitu setelah kejatuhan kerajaan Majapahit yang hindu.

Dengan kata lain, Islam mewarnai dan menjiwai karya-karya sastra para pujangga keraton Surakarta sehingga semua karya-karya sastranya itu berupa puisi yang berbentuk tembang/sekar Macapat.

Istilah ‘interelasi’ (dalam topik) artinya Islam di-Jawakan, sedangkan Jawa di-Islamkan. Walaupun demikian, warna Islam terlihat sekali dalam substansinya, yaitu :
1. Unsur ketaukhidan (upaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa)
2. Unsur kebajikan (upaya memberikan petunjuk/nasehat) kepada siapapun (petunjuk agar berbuat kebajikan dan petunjuk untuk tidak berbuat tercela).
Maksud dari keterkaitan antara Islam dengan karya-karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang sifatnya imperative moral. Artinya, keterkaitan itu menunjukkan warna keseluruhan/corak yang mendominasi karya-karya sastra tersebut. Karya-karya sastra Jawa adalah karya sastra para pujangga keraton Surakarta yang hidup pada zaman periode Jawa baru yang memiliki metrum Islam. Memiliki corak jihad, masalah ketauhidan, moral/perilaku yang baik dan sebagainya.

Baca Juga: Sayyidul Istigfar

Sastra Pada Zaman Mataram

Nama pujangga pada periode ini misalnya Sultan Agung dengan karyanya Sastra Gending, Pangeran Adilangu dengan karyanya Babad Majapahit, Sunan Pakubuwan V dengan karyanya Serat Centhini, dan R. Ng Renggawarsita dengan karyanya Sabdajati.

Sastra pada masa Kerajaan Pajang memiliki identitas yang khas, yakni budaya yang bercorak ortodoks jika dibandingkan dengan budaya yang ada di dalam pedalaman, yang dalam banyak hal masih kental bercampur dengan elemen-elemen Hinduisme. Hal ini tampak dari karya sastra yang dihasilkan oleh ulama yang di samping posisinya sebagai juru dakwah juga membuat karya tulis. Sastra ini juga memiliki kaitan erat dengan proses perkembangan kehidupan keagamaan karena pada dasarnya kehidupan sehari-hari masyarakat tak dapat dilepaskan dari kerangka agama.

Nah, kemudian proses islamisasi yang mulai masuk kepedalaman, maka terjadi pula proses islamisasi sastra pedalaman yang semula bercorak hindu sentries menjadi berbau keisalaman, meskipun pada akhirnya coraknya merupakan perpaduan antara ajasan Islam dengan elemen-elemen mistik yang juga berlaku dikalangan Hindu.
Ajaran-ajaran budi luhur yang terdapat dalam sastra Jawa kemudian mengkristal menjadi suatu pandangan hidup kejawen yang bercorak sinkretis, dengan penampilan yang lebih menekankan pada substansi ajaran mistik, tetapi dalam banyak hal kurang suka pada unsur yang legalistik semacam syari’at.

You might be interested in …

Sejarah Olahraga Berenang

Sejarah Olahraga Berenang

Agama

Sejarah Olahraga Berenang Manusia sudah dapat Berenang sejak zaman prasejarah, bukti tertua mengenai Berenang adalah lukisan-lukisan tentang perenang dari Zaman Batu telah ditemukan di  “gua peBerenang”  yang berdekatan dengan Wadi Sora di Gilf Kebir, Mesir barat daya. Catatan tertua mengenaiBerenangberasal dari 2000 SM. Beberapa di antara dokumen tertua yang menyebut tentangBerenangadalah Epos Gilgamesh, Iliad, Odyssey, dan Alkitab, serta Beowulf dan hikayat-hikayat lain.  Pada 1538, Nikolaus Wynmann seorang profesor bahasa dari Jerman menulis buku […]

Read More
Dakwah Berbasis Multikultural

Dakwah Berbasis Multikultural

Agama

Dakwah Berbasis Multikultural Beragam budaya, agama, etnis dan golongan membutuhkan model pengelolaan yang sesuai supaya dakwah tidak melenceng dari cita-cita luhurnya. Substansi dakwah multikulturalisme dikembangkan sebagai respon atas kondisi yang dilatarbelakangi oleh keragaman budaya atau masyarakat multicultural, utama masyarakat yang sudah maju. Dakwah multikulturalime secara konsepsional mempunyai dua pandangan dengan makna yang saling berkatian. Pertama, […]

Read More

Penjelasan al-Qur’an terhadap Hukum

Agama

Penjelasan al-Qur’an terhadap Hukum Ayat al-Qur’an dari segi kejelasan artinya ada dua macam. Dalam surat Ali Imran ayat 7 disebutkan bahwa dua macam itu adalah muhkan dan mutasyabih. “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. […]

Read More