Ini Dia Aturan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya

Ini Dia Aturan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya

Ini Dia Aturan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya

 

Ini Dia Aturan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya

Baraya Disdik Jabar

Ternyata dalam menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya terdapat beberapa aturan yang harus kita patuhi. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 44 Tahun 1958 Tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Dalam PP tersebut tidak saja dijelaskan tujuan penggunaan Lagu Kebangsaan, akan tetapi mengenai tata tertib penggunaannya hingga aturan hukum.

Dalam Bab II tentang Penggunaan Lagu Kebangsaan, pada Pasal 4, ayat (1) yang berbunyi

Lagu Kebangsaan diperdengarkan atau dinyanyikan bertujuan:  a) Untuk menghormat Kepala Negara/Wakil Kepala Negara.  b) Pada waktu penaikan/penurunan Bendera Kebangsaan yang diadakan dalam upacara, untuk menghormat Bendera itu.  c) Untuk menghormat negara asing.  Pada ayat (2) Lagu Kebangsaan dapat pula diperdengarkan/dinyanyikan:  a) Sebagai pernyataan perasaan nasional.  b) Dalam rangkaian pendidikan dan pengajaran.

BAB V tentang Tata Tertib Dalam Penggunaan Lagu Kebangsaan

Baraya Disdik Jabar, dalam BAB V tentang Tata Tertib Dalam Penggunaan Lagu Kebangsaan, dijelaskan mengenai larangan penggunaan Lagu Kebangsaan untuk beberapa hal, yaitu pada Pasal 8 ayat (1) yang berbunyi Lagu Kebangsaan tidak boleh diperdengarkan/dinyanyikan pada waktu dan tempat menurut sesuka-sukanya sendiri. Sedangkan dalam ayat (2) dijelaskan bahwa Lagu Kebangsaan tidak boleh diperdengarkan dan/atau dinyanyikan dengan nada-nada, irama, iringan, kata-kata dan gubahan-gubahan lain daripada yang tertera dalam lampiran-lampiran peraturan ini.

Selain itu, pada Pasal 9 dijelaskan bagaimana sikap seseorang yang sedang menyanyikan/ mendengarkan Lagu Kebangsaan, yaitu pada waktu Lagu Kebangsaan diperdengarkan/dinyanyikan pada kesempatan-kesempatan yang dimaksud dalam peraturan ini, maka orang yang hadir berdiri tegak di tempat masing-masing. Mereka yang berpakaian seragam dari sesuatu organisasi memberi hormat dengan cara yang telah ditetapkan untuk organisasi itu.

Sedangkan mereka yang tidak berpakaian seragam, memberi hormat dengan meluruskan lengan ke bawah dan melekatkan tapak tangan dengan jari-jari rapat pada paha, sedang penutup kepala harus dibuka, kecuali kopiah, ikat kepala sorban dan kudung atau topi wanita yang dipakai menurut agama atau adat-kebiasaan.

BAB VI pasal 10 ayat (1)

Sanksi kepada seseorang yang tidak patuh terhadap tata tertib di atas, diatur dalam BAB VI pasal 10 ayat (1), yang berbunyi : barangsiapa melanggar ketentuan-ketentuan tersebut dalam pasal 5, pasal 7 ayat 2 dan ayat 3, dan pasal 8 Peraturan ini, dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan atau dengan denda sebanyak-banyaknya lima ratus rupiah.

 

Sumber : https://pendidikan.co.id/

You might be interested in …

Perguruan Tinggi Swasta di Jogja Didorong Berkompetisi

Perguruan Tinggi Swasta di Jogja Didorong Berkompetisi

Pendidikan

Perguruan Tinggi Swasta di Jogja Didorong Berkompetisi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Jogjakarta didorong untuk terus berkompetisi . Bersinergi dengan positif untuk menghasilkan lulusan yang semakin berkualitas. “Mereka kami dorong berkompetisi. Tapi dengan istilah kompetisinya itu bukan saya maju yang lain mati, tapi kompetisi bersinergi sama-sama maju. Kompetisi positif, bukan kompetisi saya maju […]

Read More

 Keadaan Buruk Pendidikan di Indonesia

Pendidikan

 Keadaan Buruk Pendidikan di Indonesia 2.2.1 Paradigma Pendidikan Nasional yang Sekular-Materialistik Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi […]

Read More

 Kerajaan Islam di Aceh

Pendidikan

 Kerajaan Islam di Aceh       Kerajaan Samudra Pasai Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai, yang didirikan pada abad ke-10 M dengan raja pertamanya Malik Ibrahim bin Mahdum. Yang kedua bernama Al-Malik Al-Shaleh dan yang terakhir bernama Al-Malik Sabar Syah (tahun 1444 M/ abad ke-15 H).[22] Pada tahun 1345, Ibnu Batutah dari Maroko sempat singgah […]

Read More