Hal-hal yang berkaitan tentang orang yang tidak puasa atau orang yang merusak Puasanya

Hal-hal yang berkaitan tentang orang yang tidak puasa atau orang yang merusak Puasanya

Hal-hal yang berkaitan tentang orang yang tidak puasa atau orang yang merusak Puasanya

Hal-hal yang berkaitan tentang orang yang tidak puasa atau orang yang merusak Puasanya
Hal-hal yang berkaitan tentang orang yang tidak puasa atau orang yang merusak Puasanya

 

a. Mengkodlo’ puasa

Menurut kitab Fath-Hul Mu’in, bahwasannya orang mengkodlo’ puasa wajib yang belum ia penuhi pada saat itu, baik orang tadi meninggalkan puasa karena udzur, itu hukumnya wajib untuk mengkodlo’ puasanya. Kecuali orang tersebut meninggalkan puasa dengan alasan gila atau mabuk yang bukan karena sengaja.Mengkodlo’ Puasa pada hari Syakh
Di dalam kitab Minhajul Khowim, dijelaskan bahwasannya mengkodlo’ puasa pada hari syakh itu humumnya makruh. Yang dimaksud Hari Syakh di sini adalah tanggal 30 Sya’ban. Alasannya karena dimungkinkan tanggal 30 sya’ban ini sudah masuk pada tanggal 1 Ramadhan.

b. Belum sempat mengkodlo’ sudah datang Bulan Ramadhan

Dalam hal ini apabila seseorang mempunyai hutang puasa pada tahun sebelumnya, dan orang tersebut belum sempat mengkodlo’ puasanya, padahal ia sudah mampu menunuaikannya kemudian ia meninggal, maka sebagai seorang ahli waris wajib mengeluarkan 2 mud tiap satu hari sebagai fidyah. Ini dengan catatan apabila kerabat atau ahli waris tersebut tidak mangkodlo’ puasa tersebut. Apabila ahli waris tersbut mampu untuk mengkodlo’ puasa tersebut, maka ahli waris tidak perlu mengeluarkan fidyah.

Perbedaan Ulama’

Dalam menyikapi hal ini, yaitu khususnya pada Bab Udzur Puasa, banyak Ulama’ yang berbeda pendapat. Diantaranya yaitu:

1. Asy-Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Maribari

Mengungkapan bahwa seseorang wajib mengkodlo’ puasa wajib, walaupun dia meninggalkan puasa tersebut dengan sebab Udzur. Seperti Puasa kafarat, atau nadzar yang orang tersebut didak puasa karena sakit, atau nifas.

2. Asy-Syekh Muhammad bin Qosim Al-Ghazy

Mengungkapkan pendapat dalam kitabnya yang telah termasyhur di kalangan Muslimin, yaitu Fathul Qorib.
Bahwasannya “orang yang meninggalkan puasa dengan sebab Udzur, tidak wajib mengkodlo’nya.

3. Menurut Imam Syafi’i

tidak diperbolehkan mengkodlo’ puasa orang yang sudah meninggal secara mutlak.

4. Imam

mengungkapkan pendapatnya dan membenarkan qoul Qodim, bahwasannya boleh apabila ahli waris mengkodlo’ puasa orang yang sudah meninggal. Dengan catatan apabila orang tersebut tidak meninggalkan harta benda.

Demikian penjelasannya semoga manfaat. Terimakasih

Baca Juga: 

You might be interested in …

Biografi Imam Hanafi

Biografi Imam Hanafi

Agama

Biografi Imam Hanafi Biografi Imam Hanafi Abu hanifah dilahirkan pada tahun 80 hijriyah bersamaan(659 masehi). Sebagai para ahli sejarah mengatakan bahwa ia dilahirkan pada tahun 61 hijriyah; pendapat ini sangat tidak berdasarkan, karena yang sebenarnya ialah pada tahun 80 hijriyah ( 659 M) menurut pendapat yang pertama. Dan beliau meninggal pada tahun 150 Hijriyah. Abu […]

Read More
MACAM-MACAM JARIMAH MENURUT CARA MELAKUKAN DAN KONSEKUENSINYA

MACAM-MACAM JARIMAH MENURUT CARA MELAKUKAN DAN KONSEKUENSINYA

Agama

MACAM-MACAM JARIMAH MENURUT CARA MELAKUKAN DAN KONSEKUENSINYA   1. JARIMAH PEMBUNUHAN Pembunuhan ada tiga macam a. Pembunuhan disengaja Pembunuhan yang dilakukan oleh seorang mukallaf dengan menggunakan alat yang biasa untuk membunuh/mematikan disertai dengan niat untuk membunuh. · Sanksi pembunuhan disengaja. Pembunuhan yang disengaja jika telah memenuhi syarat wajib di qisash, jika mendapat maaf dari keluarganya […]

Read More
Penjelasan Ilmu Ma’rifat al Ahkam wal Mutasyabih

Penjelasan Ilmu Ma’rifat al Ahkam wal Mutasyabih

Agama

Penjelasan Ilmu Ma’rifat al Ahkam wal Mutasyabih Ilmu Ma’rifat al Ahkam wal Mutasyabih Ilmu ma’rifat al ahkam wal mutasyabih ialah ilmu yang menyatakan ayat-ayat yang dipandang muhkam dan ayat-ayat yang dipandang mustasyabih. Pengertian Muhkam Mutasyabih Secara Umum Secara bahasa Muhkam berasal dari kata-kata, “Hakamtu dabbah wa ahkamtu,” artinya saya menahan binatang itu. Kata al Hukm […]

Read More