Cerpen Rahasia Tarian Suci

Cerpen Rahasia Tarian Suci

Cerpen Rahasia Tarian Suci

Cerpen Rahasia Tarian Suci
Cerpen Rahasia Tarian Suci

Cerpen Rahasia Tarian Suci Oleh: Arswendo Atmowiloto

Baginda raja mengadakan pesta besar. Memperingati ulang tahun menjadi raja. Undangan khusus disebar. Para pembesar Belanda menempati tempat yang istimewa. Sementara para bangsawan, kerabat Keraton berada di lapis kedua. Malam pesta besar itu diadakan dansa-dansi oleh para ‘sinyo’ Belanda dengan istrinya. Pakaian mereka menggambarkan kejayaan dan kekuasaan yang tak terkalahkan. Dari pihak Keraton dipersembahkan sebuah tarian suci. Tarian Budaya Agung. Ini hanya bisa ditarikan oleh putri-putri Keraton. Untuk bisa menarikan perlu latihan yang panjang, dan melelahkan. Hanya pada hari istimewa saja tarian itu dipentaskan. Untuk ukuran sekarang ini baru dipentaskan dua kali. Ketika Baginda Raja naik tahta delapan tahun lalu, dan sekarang ini.

Seluruhnya ada tujuh penari.

Sesungguhnya masyarakat yang berdesakan di alun-alun, yang memandang dari kejauhan, menunggu tari BedayaAgung ini. Bagi mereka seumur hidup bisa menyaksikan tiga kali tarian suci ini merupakan keistimewaan.
Tapi ternyata para pembesar Belanda tidak menaruh hormat. Ketika tari Bedaya Agung disuguhkan, sebagian dari pembesar ini masih mabuk, berceloteh, mengumpat, berjalan ke sana ke mari. Padahal biasanya saat tari Bedaya Agung disuguhkan, tarikan napas pun diatur agar tidak mengganggu. Untuk pertama kalinya Baginda Raja tersinggung. Merasa diremehkan oleh para pembesar Belanda. Suasana yang tak sakral, membuat para penari tak sepenuhnya bisa mengikuti ‘gerak batin’, oleh roh yang lembut. Keagungan dan keanggunan tari suci menjadi berkurang maknanya.

Pada saat yang krisis itu, mendadak dari arah penonton

dari rakyat biasa muncul seorang perempuan yang melenggang. Gerak tarinya sangat halus, lembut, tapi penuh dengan wibawa.
Sang penari baru ini memesona seluruh hadirin. Bahkan ketika menyatu dengan para putri Keraton, semuanya mengalir dengan sempurna. Selama dua jam lebih, tak ada yang berbisik, tak ada yang membuat ulah. Semua teredam oleh sang penari. Oleh geraknya, oleh wibawanya. Baru setelah tarian itu selesai, para pembesar Belanda bertepuk tangan. Diikuti oleh semua yang hadir. Baginda Raja memerlukan berdiri dari kursi kebesarannya untuk menemui sang penari.

Betapa terkejutnya Baginda Raja

juga semua yang hadir ketika menemukan kenyataan, bahwa penari tadi adalah Bibi Mandoblang, istri Mandoblang. ‘Tak mungkin,” Baginda Raja berteriak. “Tarian itu hanya diajarkan kepada putri Keraton terpilih. Dari ratusan putri Keraton hanya tujuh yang terpilih.” “Hamba pernah berada di Keraton, Baginda…” Ini hebat. Baru sekarang terkuak rahasia Bibi Doblang. Yang dulunya adalah putri Keraton. Kenapa meninggalkan Keraton lalu menjadi istri Mandoblang, tak diceritakan saat itu. Gubernur Belanda, Van Houten terpesona. Sehingga turun pula mendekati, mengeluarkan segepok uang kertas. Benar-benar satu gepok penuh.
Bibi Doblang menggeleng.
“Terimalah,” perintah Baginda Raja.
“Mohon ampun Baginda…Hamba menari tidak untuk dibayar.”