Biografi Imam Hanafi

Biografi Imam Hanafi

Biografi Imam Hanafi

Biografi Imam Hanafi
Biografi Imam Hanafi

Biografi Imam Hanafi

Abu hanifah dilahirkan pada tahun 80 hijriyah bersamaan(659 masehi). Sebagai para ahli sejarah mengatakan bahwa ia dilahirkan pada tahun 61 hijriyah; pendapat ini sangat tidak berdasarkan, karena yang sebenarnya ialah pada tahun 80 hijriyah ( 659 M) menurut pendapat yang pertama. Dan beliau meninggal pada tahun 150 Hijriyah.
Abu Hanifah hidup di zaman pemerintahan kerajaan Umawiyah dan pemerintahan Abbasiyah. Imam Abu Hanifah adalah seorang imam yang empat dalam islam. Ia lahir dan meninggal lebih dahulu dari para imam-imam yang lain, karena dialah yang kita bicarakan lebih dahulu dari imam-imam yang lainnya. Imam Abu Hanifah seorang yang berjiwa besar dalam artikata seorang yang berhasil dalam hidupnya, dia seorang yang bijak dalam bidang ilmu pengetahuan tepat dalam memberikan suatu keputusan bagi suatu masalah atau peristiwa yang dihadapi.

Corak Pemikiran Hukum: Rasional

Metode Fiqh Madzhab Hanafi

Adapun metodenya dalam Fiqh sebagaimana perkataan beliaunya sendiri: “Saya mengambil dari Kitabullah jika ada, jika tidak saya temukan saya mengambil dari Sunnah Atsar dari Rasulullah saw yang shahih dan saya yakini kebenarannya, jika tidak saya temukan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, saya cari perkataan Sahabat, saya ambil yang saya butuhkan dan saya tinggalkan yang saya tidak butuhkan, kemudian saya tidak akan mencari yang di luar perkataan mereka, jika permasalahan berujung pada Ibrahim, Sya’bi, al-Hasan, Ibnu Sirin dan Sa’id bin Musayyib (karena beliau menganggap mereka adalah Mujtahid) maka saya akan berijtihad sebagaimana mereka ijtihad”.

Metode yang dipakainya itu jika tidak dirincikan maka ada 7 Ushul Istinbath yang digunakan oleh Imam Abu Hanifah:

1. Al-Qur’an, Abu Hanifah memandang Al-Qur’an sebagai sumber pertama pengambilan hukum sebagaimana imam-imam lainnya. Hanya saja beliau berbeda dengan sebagian mereka dalam menjelaskan maksud (dilalah) Al-Qur’an tersebut, seperti dalam masalah-masalah mafhum mukhalafah.

2. Sunnah/hadist, Imam Abu Hanifah juga memandang sunnah sebagai sumber hukum al-qur’an sebagaimana imam-imam yang lain. Yang berbeda adalah beliau menetapakan syarat-syarat khusus dalam penerimaan sebuah hadist (mungkin bisa dilihat dari Ushul Fiqh), yang memperlihatkan bahwa Abu Hanifah bukan saja menilai sebuah hadist dari sisi Sanad (perawi), tapi juga meneliti dari sisi Matan (isi) hadist dengan membandingkannya dengan hadist lain dan kaidah-kaidah umum yang telah baku dan disepakati.

3. Perkataan Shahabah, metode beliau adalah jika terdapat banyak perkataan Shahabah, maka beliau mengambil yang sesuai dengan ijtihadnya tanpa harus keluar dari perkataan Shahabah yang ada itu, dan jka ada beberapa pendapat dari kalangan Tabi’in beliau lebih cenderung berijtihad sendiri.
4. Qiyas,
5. Istihsan
6. Ijma’
7. Urf

Baca Juga: Ayat Kursi

Rasionalitas keputusan fiqihnya

dapat dilihat dari beberapa contoh berikut: Abu Hanifah pernah ditanya “apa pendapatmu hukum minum dengan wadah gelas yang sebagian sisinya terdapat perak? Ia menjawab “tidak mengapa” ditanya lagi “bukanlah minum dengan wadah emas dan perak dilarang oleh nabi?” ia menjawab, “Apa pendapat anda melintas saluran air, dalam keadaan haus kemudian air itu dengan mnciduknya dengan tanganmu yang disalah satunya terdapat cincin emas?” penanya menjawab, “tidak mengapa”, “begitulah” kata Abu Hanifah”.

Karena pendirianya itu banyak ulama’ hadist dan fiqh menilainya dengan sebagai orang yang mendahulukan akal/ra’y dan qiyas atas hadist Nabi, sikap mana digolongkan mengikuti hawa nafsu. Kendati Abu Hanifah dikenal sebagai imam madzhab fiqh tetapi tidak ada kitabnya satupun yang sampai kepada kita. Pandangan-pandanganya seperti kitab al-a’lim wa al-mutaalim, kitab al radd’ al-qadariyah, dan lain-lain, tidak ditulis dalam kitab fiqh. Tetapi murid-muridnya telah berusaha menjaganya dan meriwayatkannya dalam bab-bab fiqh

You might be interested in …

Keajaiban sedekah akan mempererat hubungan silaturahim dengan sesama

Keajaiban sedekah akan mempererat hubungan silaturahim dengan sesama

Agama

Keajaiban sedekah akan mempererat hubungan silaturahim dengan sesama   Keajaiban Sedekah Keajaiban sedekah dapat mempererat silaturahim dengan sesama. Siapa yang akan memungkiri hal tersebut. Saat memberikan sedekah kepada orang lain, sudah jelas bahwasanya kita telah membantunya. Hal tersebut tentu saja dapat menambah saudara baru jika memang sebelumnya belum mengenalnya. Jika pada saat kita memberikan sedekah […]

Read More

PENGERTIAN IHSAN

Agama

PENGERTIAN IHSAN Arti Ihsan berasal dari bahasa yang artinya berbuat baik/ kebaikan. Sedangkan menurut istilah yaitu perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang dengan niat hati beribadah kepada Allah SWT. Para ulam menggolongkan Ihsan menjadi 4 bagian yaitu: 1. Ihsan kepada Allah 2. Ihsan kepada diri sendiri 3. Ihsan kepada sesama manusia 4. Ihsan bagi sesama […]

Read More

Arti Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Agama

Arti Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam Pengertian sunnah Menurut bahasa sunnah adalah jalan yang dilaui, baik terpuji maupun tercela. Sedangkan secara istilah adalah hal-hal yang datang dari Nabi Muhammad SAW, baik itu berupa ucapan (fi’liyah), perbuatan (qauliyah), ketetapan (taqririyah), sifat, kelakuan, perjalan hidup baik sebelum Nabi diangkat menjadi Rasul atau sesudahnya. Sunnah fi’liyah adalah perbuatan-perbuatan […]

Read More